Sunday, February 1, 2009

Castro: Israel Musuh Umat Islam

Bekas Pemimpin Cuba Fidel Castro melontarkan kecaman pedas kepada Obama atas sikap diamnya terhadap agresi brutal Israel ke Jalur Gaza yang berlangsung selama 22 hari. Sementara bekas Perdana Menteri Britain yang menjadi utusan Tim Kwartet dalam konflik Israel-Palestin, Tony Blair, menegaskan Hamas harus dibawa sama dalam usaha perdamaian.

Castro menilai pandangan luar negera AS tidak berubah di bawah pemerintah Obama yang saat berkempen menjanjikan perubahan bagi AS kerana Obama tetap melanjutkan tindakan presiden AS terdahulu yang memberikan dukungan buta pada Israel.

Castro mengatakan bahwa Obama ikut terlibat dalam jenayah perang yang dilakukan Israel di Jalur Gaza. Indikasi ini terlihat bukan hanya dari sikap diam Obama terhadap agresi brutal itu, tapi juga terlihat dari sikap Israel yang tiba-tiba menyatakan gencatan senjata sepihak tiga hari sebelum pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44. Apalagi setelah itu, Obama menegaskan akan tetap melindungi Israel.

Castro menambahkan, dukungan buta AS telah menjadikan negara Zionis Israel sebagai "negara yang memiliki kekuatan nuklear" dan serta kekuatan militer yang akan menjadi ancaman serius kepada semua negara Muslim.

Kuba adalah satu negara yang paling pertama mengecam agresi Israel ke Jalur Gaza dan menyebut agresi itu sebagai "genosida terhadap warga sipil Palestina."

Sementara itu, Tony Blair, utusan tim kwartet-tim perdamaian Israel-Palestin yang beranggotakan PBB, EU, AS dan Rusia-menghimbau agar Hamas dilibatkan untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah.

"Saya fikir, sangat penting bagi kita untuk mencari cara agar Hamas dilibatkan dalam proses perdamaian. Tapi hal itu hanya boleh dilakukan jika Hamas siap dilibatkan dengan mematuhi ketentuan-ketentuan tertentu," kata Blair tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkan ketentuan-ketentuan tertentu itu.

Beliau mengatakan, dalam situasi seperti ini semua pihak mesti diajak berbincang dan negara Palestin kemungkinan boleh diwujudkan dengan melakukan perubahan di Tebing Barat. "Persoalan akan terjadi jika anda berusaha untuk mengesampingkan Gaza. Situasinya akan lebih serius jika anda membawanya ke tangan orang-orang yang memiliki kekuatan yang boleh meledak pada bila-bila masa saja," ujar Blair.

Ditanya apakah dia terkejut dengan kerosakan yang dilakukan Israel melalui agresinya di Gaza, Blair hanya menjawab, "Saya sudah sering mengatakan, kita perlu melakukan strategi yang berbeza dari yang sebelumnya dilakukan."

Meskipun demikian, dari beberapa wawancara di media massa, Blair tetap mendukung sikap Barat yang memaksa Hamas untuk mengakui Israel sebelum Hamas dilibatkan dalam proses perdamaian. Negara-negara Barat hanya mendukung Presiden Palestin Mahmoud Abbas di Tebing Barat, meskipun Hamas adalah pemegang tampuk kekuasaan yang sah di Palestin . Negara-negara Barat lebih pro-Abbas, kerana Abbas bersikap lunak dan mahu bekerjasama dengan AS dan Israel. (ln/prtv)

sumber

0 comments: