Tuesday, February 3, 2009

Gaddhafi Mahu Wujudkan United States of Africa

Pemimpin Libya Muamar Gadaffi terpilih sebagai ketua Uni Afrika dalam pertemuan tingkat tinggi UA di Ethiopia, Isnin (2/2), menggantikan pemimpin sebelumnya Jakaya Kikwete yang juga Presiden Tanzania.

Namun pemilihan Gaddafi tidak memuaskan hati kesemua anggota Uni Afrika yang berjumlah 53 negara. Blok negara Afrika Barat tidak begitu senang dengan terpilihnya Gaddafi dan berusaha melakukan lobi agar yang terpilih sebagai pimpinan Uni Afrika yang baru berasal dari wilayah itu.

Lobi itu tidak membuahkan hasil kerana menurut aturan Uni Afrika, posisi ketua digilir antara wilayah-wilayah negara Afrika dan tahun ini gilirannya jatuh ke wilayah Afrika Utara yang hanya diwakili oleh Gaddafi, pemimpin Libya

Pemilihan ketua Uni Afrika dilakukan secara tertutup melalui undian. Meskipun tidak didukung penuh oleh seluruh negara anggota Uni Afrika, Gaddafi menegaskan akan mewujudkan apa yang disebutnya sebagai : " United States of Africa ".

Gaddafi selama ini memang giat menyerukan agar negara-negara Uni Afrika mewujudkan persatuan yang lebih kuat. Gaddafi juga dikenal sebagai tokoh 'murah hati' yang tidak segan-segan menyalurkan bantuan dana ke sejumlah negara Uni Afrika.

"Saya harap, masa kepemimpinan saya akan menjadi masa untuk bekerja serius dan bukan cuma bicara kosong. Saya akan menegaskan lagi bahawa tugas kita adalah mewujudkan: " United States of Africa," kata Gaddafi dalam ucapan pelantikannya sebagai ketua Uni Afrika.

Gaddafi berpendapat, penyatuan negara-negara Afrika yang diperjuangkannya selama beberapa tahun terakhir bersama Presiden Senegal Abdoulaye Wade, adalah satu-satunya cara untuk menghadapi tantangan global, mengentaskan kemiskinan dan memecahkan konflik yang terjadi diantara negara Afrika tanpa campur tangan Barat.

Beliau mengakui bahawa belum semua pemimpin negara Uni Afrika sepakat dengan wacana itu dan banyak negara-negara di Afrika yang masih memilih menjadi negara bebas dan jalan sendiri-sendiri.

Dalamsidang medianya Ahad lalu, Kikwete mengatakan bahawa majoriti negara anggota Uni Afrika menolak usulan penyatuan pemerintahan dan hanya setuju untuk mengganti Komisi Uni Afrika menjadi "Autoriti" Uni Afrika.

Sebagai pimpinan baru Uni Afrika, Gaddafi yang oleh sejumlah pemimpin Afrika digelar: King of Kings Afrika ini menghadapi tentangan untuk menyelesaikan sejumlah persoalan yang melanda sejumlah negara Afrika. Antara lain, pertikaian politik di Madagascar yang sampai hari ini sudah menelan korban jiwa 65 orang, termasuk ancaman tuntutan jenayah perang terhadap Presiden Sudan, Omar Bashir.

Mampukah Gaddafi menyelesaikan semua persoalan yang sarat dengan campur tangan negara asing itu dan menyatukan negara-negara Afrika dibawah payung: United States of Africa ? Waktu yang akan menjawabnya, sejauh mana Gaddafi dapat memainkan pengaruhnya di benua hitam itu. (ln/aby)

sumber

0 comments: