Wednesday, March 4, 2009

MESIR- Keunikan Menaiki Bas

Bagi teman-teman mahasiswa yang sudah pernah tinggal di Mesir mungkin berasa biasa dengan tradisi unik yang satu ini. Sebuah tradisi yang jarang sekali ditemukan di negara selain Mesir. Kebiasaan yang merupakan suatu bentuk realisasi dari prinsip amanah dalam kehidupan bermasyarakat. Biasanya bas-bas awam di Mesir mempunyai dua pintu. 'Pintu depan' yang sejajar dengan tempat duduk pemandu dan 'pintu belakang' yang berdekatan dengan tempat duduk kondaktur.

Para penumpang biasanya naik dari pintu belakang dan langsung membayar wang kepada kondaktur. Kondaktur bas di Mesir ada tempat duduk khusus. Mereka tidak berkeliling meminta wang kepada penumpang seperti di Indonesia. Tetapi cukup duduk di kerusnya dan penumpang akan menghampiri untuk membayar.

Ketika pertama kali datang ke Mesir, penulis bersama beberapa kawan naik sebuah bas yang menuju kampus Al-Azhar. Waktu itu penulis naik dari pintu depan yang lagi penuh sesak dengan penumpang. Dalam keadaan seperti itu, tentu sangat sulit mendekati kondaktur untuk membayar wang kerana letaknya di belakang, sekitar lima meter dari tempat saya berdiri.

Namun teman saya yang sudah berpengalaman, tidak perlu bersusah-payah mendekati kondaktur, apalagi tempatnya yang sesak. Cukup memberikan wang kepada orang Mesir yang ada di sampingnya. Kemudian secara estafet, orang itu akan memberikan wang tersebut kepada orang yang di sampingnya lagi. Begitu seterusnya sampai ongkos pembayaran tersebut sampai kepada kondaktur.

Tidak hanya sampai di situ. Tiket tanda pembayaran akan dikirimkan kembali oleh kondaktur dengan cara estafet seperti tadi, hingga sampai kepada teman saya tersebut. Bahkan, kalau wang yang kita guna itu berlebihan karena tidak ada wang kecil, kembaliannya akan balik kepada kita lagi dengan pas dan selamat. Itulah tradisi yang kelihatan ganjil namun sebenarnya merupakan sebuah realisasi dari sifat amanah yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Buktinya, tradisi ini mungkin akan sulit kalau kita terapkan di Indonesia.

Sebab, seperti kata sebuah lelucon, "Kalau orang Cina tidak merasa malu berlaku korup di atas meja. Orang Hongkong agak malu sedikit, karena korupsinya di bawah meja. Tapi kalau orang Indonesia, sekali dengan mejanya di korupsi."

Itu memang sebuah lelucon. Tetapi lelucon yang lahir di bangsa kita. Lelucon yang menggambarkan sebuah tradisi korupsi yang telah mendarah daging di negeri kita. Maka marilah kita belajar dari orang Mesir untuk saling mempercayai dan dapat dipercayai. Mereka saling mempercayai dalam memberi dan menyalurkan bantuan, walau sekedar dengan tenaga untuk menyalurkan ongkos. Semua merasa senang saling membantu.

Mereka tidak merasa bosan dengan hal itu, karena tujuannya adalah untuk mendapat Ridha Allah Swt. Ada banyak lagi tradisi unik di Mesir yang dapat kita jadikan pelajaran. Bahkan keunikan lain dalam bus juga masih banyak yang unik dan perlu diketahui. Insyaallah akan kita kupas pada edisi-edisi selanjutnya.

sumber

0 comments: