"Kami ingin mengubah cara orang melihat poligami, sehingga poligami akan terlihat sebagai sesuatu yang indah dan bukan sesuatu yang menjijikkan," kata Hatijah Aam, pendiri dari "Poligami Club", kepada The Canadian Press pada hari Isnin lalu.
"Apa yang salah dengan berkongsi suami? Saya sudah melakukannya selama hampir 30 tahun. "
Kelab yang memiliki 300 suami dan 700 isteri, bertujuan untuk membantu para ibu tunggal, bekas pelacur dan wanita yang telah berumur namun belum menikah.
Pendiri berharap projek ini akan memberikan contoh rumah tangga yang bahagia untuk melawan aktivis hak-hak perempuan yang mengatakan beberapa pasangan dan anak-anak menderita dalam perkahwinan poligami.
"Beberapa orang memperlakukan poligami sebagai bahan tertawaan kerana mereka tidak sepenuhnya memahami hal itu," kata seorang suami Ikramullah Hatijah, yang berprofesi sebagai pengusaha.
"Tapi bagi sebuah komuniti yang mempraktikkan hal itu akan tahu bahawa hal tersebut bukanlah sesuatu yang aneh."
Kartini Maarof, seorang pengacara, percaya bahawa poligami dapat melayani seorang ibu yang bercerai dengan baik.
Satu dekad yang lalu, ia telah mengatur pernikahan suaminya dengan seorang kliennya yang telah bercerai, seorang ibu dengan tujuh orang anak.
"Tentu saja pada awalnya anda akan kehilangan suami anda dan ada perasaan berkompetisi dan kecemburuan yang mendalam," kata Kartini.
"Tapi setelah beberapa saat, anda mencoba untuk menjadi teman dan anda akan belajar bagaimana saling berkongsi masalah satu sama lain."
Poligami merupakan hal yang legal bagi umat Islam.
"(Poligami) adalah sebuah budaya yang tidak dianjurkan dalam masyarakat kami," kata Shahrizat Abdul Jalil, menteri perempuan Muslim yang bertanggung jawab atas kebijakan keluarga.
Oposisi
"Sisters in Islam", sebuah kelompok advokasi berkempen menentang poligami, sambil membantah argumen masyarakat yang pro-poligami.
"Jika orang memilih untuk monogami, ada cukup pria untuk setiap wanita," katanya dalam sebuah pernyataan.
Sharifah, 42 tahun, eksekutif bisnes, merupakan salah satu contoh.
Dia punya pengalaman peribadi dengan masalah poligami ketika suaminya 15 tahun yang lalu menceritakan berencana menikahi seorang ibu dari tiga yang telah bercerai.
"Saya merasa seperti dongeng saya telah berakhir," kata Sharifah, seorang ibu dari dua anak ini mengenang.
"Dia adalah belahan jiwaku ... Saya tak percaya hal itu terjadi. Lalu saya mulai berteriak kepadanya."
Suami akhirnya menyerah untuk memiliki isteri kedua setelah mengalami beberapa kaunseling perkahwinan.
"Perempuan harus tetap berdiri. Kita harus lebih progresif. Kita tahu hak-hak kita," kata Sharifah.
"Saya tidak akan masuk ke dalam perkawinan poligami. Saya tahu saya sepatutnya menerima yang lebih baik."
Islam melihat poligami sebagai jawaban yang realisti untuk beberapa kesengsaraan sosial seperti perkara perzinaan dan menyelamatkan kondisi hidup seorang janda atau seorang perempuan yang diceraikan.
Seorang Muslim yang mencari isteri kedua atau isteri ketiga bagaimanapun mesti dipastikan berusaha memperlakukan mereka semua secara adil dan setara.(fq/iol)
0 comments:
Post a Comment