Monday, September 7, 2009

Kontro Qardhawi- Wanita Boleh jadi Presiden

Syaikh Yusuf al-Qardhawi kembali mengeluarkan pernyataan aneh dan kontroversial, setelah sebelumnya dirinya mengecop Sayyid Quthb bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaah sehingga menimbulkan gonjang ganjing dalam kalangan Ikhwan dan sekarang dia memfatwakan fatwa yang bertentangan dengan majoriti pendapat ulama-ulama besar baik ulama salaf maupun khalaf yang juga membuat Ikhwanul Muslimin kembali gonjang ganjing atas pendapatnya itu.

Baru-baru ini, ulama terkemuka yang juga ketua Persatuan Antarabangsa Ulama Muslim, Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi, mngeluarkan fatwa yang menegaskan bolehnya pencalonan seorang perempuan dan seorang Koptik (unsur non-Muslim) pada pemilihan presiden.

Kontan saja fatwa yang dikemukakan ulama kharismatik asal Mesir itu menuai kontroversial di dunia Islam, khususnya di jagat perpolitikann Mesir dan juga di dalam kalangan Jama'ah al-Ikhwan al-Muslimun (Ikhwan) yang merupakan organisasi binaan Qardhawi.

Selama ini, Ikhwan memiliki prinsip dan pandangan yang sama sekali bertentangan dengan fatwa Qardhawi tersebut. Pendapat rasmi Ikhwan menyatakan jika seorang non-Muslim dan perempuan tidak boleh didukung untuk menjadi calon presiden.

Sementara itu, dalam fatwanya, Qardhawi menyatakan jika seorang perempuan memiliki hak untuk menduduki pelbagai jabatan kenegaraan semisal anggota parlimen, menteri, bahkan menjadi presiden, dan juga jabatan pada dewan fatwa.

"Logik Islam dalam kes ini berdiri di atas prinsip jika perempuan adalah entiti masyarakat yang juga paripurna, mereka memiliki hak sebagaimana lelaki," terang Qardhawi.

Dalam acara bertajuk "Fikih Kehidupan" (Fiqh al-Hayat) yang disiarkan oleh siaran televisyen "Ana" pada jaringan televisi satelit Timur Tengah Nilesat, Qardhawi menegaskan pihaknya lebih condong kepada pendapat fikih yang menyatakan seorang perempuan boleh menduduki jabatan kehakiman (qadha).

"Tapi tentu saja ada syarat-syarat kapabiliti yang ketat yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh perempuan tersebut, tidak sembarangan," terang Qardhawi.

Ditambahkan oleh Qardhawi, benar bahwa mayoriti ulama fikih tidak membolehkan perempuan untuk menduduki jabatan khalifah besar atau khalifah 'ammah, atau imamah uzhma, yaitu jabatan tertinggi kekhalifahan umat Muslim.

"Tetapi, masalahnya, apakah jawatan presiden yang hanya memerintah dan menguasai sebuah negara termasuk pada pembahasan khilafah? Atau, apakah hal ini boleh diqiyaskan sebagai pemimpin iqlim (wilayah bahagian) pada zaman dulu? Saya katakan, ya, tidak ada penghalang dalam agama bagi seorang perempuan yang mampu untuk menduduki jawatan presiden," jelas Qardhawi.

Sebagai reaksi atas fatwa dan pernyataan Qardhawi di atas, pucuk tertinggi pimpinan Ikhwan, Mahdi Akif, menegaskan jika Ikhwan tidak akan berubah pikiran terkait pendapatnya.
Akif menegaskan, pihaknya berada pada posisi tetap memuliakan dan menghormati Qardhawi dalam fatwanya. Tetapi, terkait hal ini, Akif lebih merujuk kepada fatwa dan pendapat ulama fikh lain yang dipandang lebih selaras dan sejalan dengan konsep dan manhaj jama'ahnya.
Hal serupa juga ditegaskan oleh Muhammad Habib, wakil pertama Ikhwan. Dikatakan Habib, pihaknya masih belum menyetujui opsi pencalonan perempuan dan Koptik untuk menjadi presiden.

Meski demikian, tanggapan bernada lain diungkapkan juru cakap masalah politik pada jema'ah Ikhwan, Dr. Isham Uryan. "Fatwa Syaikh Qardhawi akan menjadi masukan bagi kami. Dan memang sudah seharusnya kami melakukan banyak pembenahan ke depan," terang Uryan.
Tampaknya fatwa kontroversial Qardhawi ini bisa jadi bakal dipakai oleh parti-parti Islam khususnya Indonesia untuk melegitimasi syahwat kekuasaan mereka, belum ada fatwa seperti inipun mereka telah menganggap "tidak masalah" dengan presiden perempuan.(L2-AGS/db)

sumber

SATU UMAT: Bersamalah dengan 'jamaah'...

1 comment:

Mahfud said...

sungguh berita yang mengagetkan.
Ada yang bisa menunjukkan redaksi fatwa dan pra kondisinya gk? tolong dipost kalo ada. Kalo bisa tolong minta dikirim ke mahfud_sidik02@yahoo.com.
syukran