Friday, May 7, 2010

Islam di BELANDA Semakin Subur

Di universiti-universiti Belanda, terdapat sejumlah besar mahasiswa muslim, organisasi khusus mahasiswa muslim juga menjamur. Di kampus, tudung bukan lagi hal asing. Di Vrije Universiteit Amsterdam, misalnya, terdapat dua ribu mahasiswa muslim, 10% dari jumlah mahasiswa Belanda.

Dr Lenie Brouwer adalah seorang antropolog di VU. Menurutnya, pertumbuhan jumlah mahasiswa muslim benar-benar fenomenal. Ia menyatakan bahawa pertumbuhan jumlah mahasiswa muslim sangat istimewa dan benar-benar cepat dibandingkan dengan kelompok-kelompok lain. DItegaskan oleh Brouwer, sebahagian orangtua mahasiswa muslim tersebut banyak yang buta huruf, namun mereka mampu sekolah hingga ke universiti.

Kesadaran akan eksistensi diri pada generasi akademisi muslim muda ini juga tumbuh secepat jumlah mereka. Salah satu buktinya adalah jumlah organisasi mahasiswa muslim yang terus bertambah. Organisasi-organisasi ini memberi alternatif bentuk kekerabatan yang berbeda dari sekadar inisiasi mahasiswa baru yang lebih banyak mabuk-mabukan.

Lucunya, alternatif yang ditawarkan tak jauh beza dari majlis minum-minum mahasiswa non-muslim: organisasi mahasiswa nasional MashriQ mengadakan 'pesta halal'' - acara minum-minum dan makan-makan, tapi tanpa alkohol dan makanan haram lainnya.

MashriQ adalah organisasi besar beranggotakan ratusan mahasiswa dan bercabang di Den Haag, Rotterdam dan Amsterdam. Menurut organisasi ini, mereka adalah organisasi mahasiswa yang pertumbuhannya paling cepat di Belanda. Selain pesta halal, mereka juga mengadakan debat, festival, ekskursi, pertandingan olahraga. Kegiatan mereka memang tak jauh beza dengan organisasi mahasiswa lainnya.

Feraz Ahmed adalah salah satu pengurus MashriQ di Amsterdam. Ia berdarah setengah Belanda setengah Mesir. Menurutnya organisasi khusus mahasiswa muslim memang diperlukan.

"Saya fikir, mahasiswa-mahasiswa muslim butuh organisasi. Biasanya kami cuma sibuk belajar, tapi kami juga mesti melakukan hal lain. Kami tak mahu hanya atahu hal-hal teori dari buku. Jadi selain belajar, kami juga mahu terjun ke lapangan."

Latar belakang etnis anggota-anggota MashriQ sangat bervariasi: orangtua dari akademisi ini berasal dari Somalia, Maghribi, Mesir, Pakistan, Indonesia, dan banyak negara lain. Pembahagian peranan antara laki-laki dan perempuan juga boleh dijadikan contoh: 50-50.

Jihanne Abuhoussain berlatar-belakang Maghribi. ia juga duduk di kepengurusan MashriQ. Argumentasinya kuat, dia menerangkan mengapa organisasi khusus macam ini justru tidak akan menjurus ke segregasi, dan terutama berguna untuk emansipasi akademisi muslim:

"Saya melihat organisasi ini sebagai bentuk partisipasi, baik untuk VU maupun untuk mahasiswa muslim. Sekarang, kami menawarkan kesempatan kepada mahasiswa muslim untuk bergabung dalam sebuah organisasi. Dan menurut saya dalam organisasi ini mereka akan bisa mengembangkan diri dengan lebih baik. Dengan kualitas dan kemampuan yang mereka dapatkan dari organisasi ini, mereka akan lebih siap menghadapi pasar kerja."

Bahwa hal ini terjadi di Belanda, menurut antropolog Brouwer, adalah sesuatu yang harus dibanggakan. "Akademisi muslim muda sibuk membuka gerbang pengetahuan dan kekuasaan, dan ini hal positif."(fq/rn)

sumber

0 comments: