Wednesday, August 11, 2010

Kaherah Hanya Guna 1 Azan

Seperti kebanyakan negara muslim lainnya, masyarakat Mesir kemungkinan akan menjalankan ibadah puasa pada Rabu (11/8). Pemerintah Mesir memanfaatkan datangnya bulan Ramadan untuk mulai menerapkan langkah sentralisasi kumandang azan sebagai petunjuk datangnya waktu oalat.

Dengan sistem sentralisasi ini, masjid-masjid di Mesir tidak lagi mengumandangkan azan sendiri-sendiri saat waktu salat tiba kerana suara azan akan dikumandangkan dari satu sumber saja melalui alat pembesar suara yang disambungkan ke seluruh masjid. Menteri Wakaf Mesir Hamdi Zaqzuq mengatakan, langkah penyatuan kumandang azan untuk tahap pertama akan dilaksanakan di kota Kaherah yang memiliki sekitar 4.500 masjid. Setelah Kaherah, ;angkah tersebut akan dilakukan di kota Alexandria dan kota-kota lainnya di seluruh Mesir jika sistem ini terbukti efektif dan efisien.

"Kami sudah melakukan ujian sistem baru untuk sentralisasi kumandang azan, untuk mengakhiri 'perang' suara azan melalui suara sehingga menimbulkan kebisingan dan terkesan tidak tertib," kata Zaqzuq.

Salem Abdul-Galil, pegawai kementerian wakaf untuk urusan salat menyatakan, sebuah pasukan juruteknik sudah menginstal jaringan ke masjid-masjid agar boleh mengumandangkan azan yang sama pada saat yang sama. Ujian sistem jaringan ini sudah berhasil dilakukan di 17 masjid. Stesenn Radio Kaherah Raya akan menjadi pusat transmisi kumandang azan ke masjid-masjid di seluruh kota itu. Kementerian Wakaf Mesir sudah memilij para muazin yang suaranya sudah dirakam terlebih dahulu, dan rakaman suara azan mereka akan didistribusikan ke seluruh wilayah di Mesir.

"Dengan sentralisasi kumandan azan ini, orang-orang yang sedang sakit, para pelajar atau mahasiswa, serta mereka yang memerlukankan konsentrasi tidak terganggu dengan suara azan yang bising dari masjid-masjid di sekitar mereka," kata Abdul-Galil.

Sentralisasi kumandang azan ini berpengaruh pada puluhan ribu muazin di Mesir. Saat ini, ada 70.000 ribua muazin yang bekerja untuk Kementerian Wakaf. Mereka yang tidak terpilih untuk sistem sentralisasi ini akan dipekerjakan sebagai pengurus masjid atau diberikan pelatihan menjadi imam untuk memenuhi keperluan imam di Mesir yang ternyata masih kekurangan tenaga-tenaga imam yang profesional.

Survei yang dilakukan oleh Pusat Informasi dan Dukungan Kebijakan pemerintah Mesir menunjukkan bahawa majoriti warga Kaherah meyambut positif kebijakan sentralisasi azan ini. Dari 1.150 keluarga di Kaherah yang disurvei, 58 peratus mendukung tindakan sentralisasi sedangkan sisanya menolak dengan alasan itu bertentangan dengan tradisi Islam dan mengurangi nilai spiritualiti yang terkandung dalam kumandang azan. (ln/al-ahram)

sumber

3 comments:

School Of Tots said...

Yang utama seruan azan terus berkumandang. Mungkin dengan lebih senada dan serentak. Namun ibarat mendengar dari corong radio. Keunikan muazzin mengalunkan azan pada setiap masjid akan hilang. Alunan azan secara 'LIVE' itu memberi aura tersendiri.

Note: Selalunya yang komplen bising dsb ialah dari kalangan muslim sendiri.

kahfi8 said...

azan tu mengganggu ke? pelik jugak.

orang mengalunkan kalimah allah, syiar islam.

Murtadza Mokhtar said...

Bumi berputar mengelilingi matahari. Waktu solat masuk seiring dengan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Jadi setiap saat putaran bumi akan bermakna setiap saat akan ada azan dikumandangkan. Maka, setiap saat akan ke udara kalimah membesarkan Allah. Maha Bijaksana Dia.

Kalau konsep baru ini dibuat, maka tidak akan berlaku lagi keunikan tersebut. Dalam 24 jam akan hanya ada lima kali sahaja azan dilaungkan di Mesir, tidak lagi setiap saat seiring pergerakan matahari/bumi merentasi wilayah Mesir yang luas itu.

Saya bimbang ini peranan Dajjal yang mahu mengurangkan waktu azan dikumandangkan di dunia, bermula dengan Mesir.

Wallahua'lam.