1. Morocco / Maghribi
Negara berbentuk kerajaan ini berisiko menghadapi revolusi seperti Mesir kerana tingkat pengangguran yang cukup tinggi, sekitar 9.1 peratus. Anak-anak muda Morocco juga sangat sedar teknologi dan aktif menggunakan sosial media di internet. Situasi di Mesir, membuat pemerintah kerajaan Morocco dengan cepat melakukan antisipasi dengan membuat sejumlah rencana reformasi. Untuk itu, pemerintah Morocco membentuk Komisi Pemerintah yang membuat perincian tindakan reformasi itu.
2. Jordan
Negara ini juga berbentuk kerajaan. Tingkat pengagguran mencapai 14 peratus. Sekitar 38-39 peratus rakyat Jordan adalah pengguna internet. Sejak revolusi Mesir meletus, aksi-aksi massa yang memprotes pemerintah juga terjadi di Jordan dan memaksa pemerintahan negara itu melakukan berbagai tindakan prorakyat, seperti subsidi untuk bahan makanan dan bahan bakar.
Raja Jordan, Raja Abdullah juga merombak pemerintahannya dan membentuk kabinet baru dengan prioriti melakukan reformasi seperti yang dituntut rakyatnya. Kecepatan pemerintah Jordan merealisasikan janj reformasinya akan menentukan nasib sang raja.
3. Syria
Kekuasaan di negara ini dijalankan dengan sistem parti tunggal. Presiden Syria sekarang adalah Bashar Al-Assad. Tingkat pengangguran di Syria mencapai 8.1 peratus. Negara ini cukup terbuka dalam hal penggunaan jejaring sosial seperti Facebook. Meski demikian, negara ini membatasi informasi yang berkaitan dengan perkembangan di Mesir. Para pengguna internet di Syria yang ingin mencari informasi tentang Mesir akan sulit menemukannya, kerana informasi-informasi semacam itu sudah disekat.
Masalah ekonomi tidak terlalu menjadi persoalan di Syria. Dalam menjalankan pemerintahannya, Presiden Al-Assad juga tidak seburuk Husni Mubarak. Pemerintahan Al-Assad meyakini bahawa posisi mereka aman, kerana kedekatan mereka dengan isu-isu Palestin, Iran dan ketegasan menghadapi tekanan Barat.
4. Arab Saudi
Negara berbentuk kerajaan absolut ini juga menghadapi aksi massa beberapa bulan terakhir terkait ketidakpuasan rakyatnya, terutama penduduk kota Jeddah, terhadap pemerintah yang dianggap gagal mengatasi masalah banjir. Meski tidak bernuansa politik, aksi-aksi massa itu diyakini berupaya mencetuskan aksi massa antipemerintah yang lebih luas.
Tiga juta rakyat Saudi adalah pengguna Facebook dan jumlah pengguna jejaring sosial Twitter di Saudi makin meningkat. Sementara tingkat pengangguran mencapai 10 peratus. Tingginya tingkat pengangguran dan tekanan dari kelompok minoriti Syiah di negara itu menjadi ancaman bagi kerajaan Saudi. Tapi kekuatan militer negara ini, dinilai mampu mengatasi aksi-aksi massa dan gejolak yang terjadi di masyarakat.
5. Iran
Negara berbentuk Republik Islam ini memilih presidennya mellaui pilihan raya. Namun yang kekuasaan yang paling menentukan di Iran adalah seorang "pemimpin tertinggi" yang berperanan sebagai pemimpin agama dan pemimpin politik.
Pilihan raya terakhir di Iran dimana Mahmud Ahmadinejad terpilih untuk kedua kalinya sebagai presiden, diwarnai dengan gerakan kelompok pembangkang yang menolak supremasi keagamaan di negara itu. Namun gerakan itu berhasil diredam. Aksi massa di Iran, terutama dari kelompok pembangkang, kembali memanas di Iran menyusul revolusi Mesir. Gerakan itu tidak lepas dari peranan jejaring sosial macam Facebook dan Twitter yang digunakan kelompok-kelompok antipemerintah di Iran mahupun di luar Iran.
6. Libya
Negara di kawasan Afrika Utara ini dipimpin oleh seorang pemimpin tunggal Muammar Gaddafi. Kelompok Ikhwanul Muslimin di negara Libya memegang peranan penting sebagai kelompok pembangkang. Mereka menggunakan jejaring sosial Facebook dalam melakukan kempen dan mencari dukungan untuk mengkritik pemerintah.
Gaddafi dikenal sebagai pemimpin yang eksentrik dan menginginkan puteranya meneruskan kekuasaannya di Libya. Negara ini memang tidak diguncang aksi tunjuk perasaan kerana masalah perekonomian, tapi cita-cita Gaddafi mengangkat anaknya sebagai penguasa Libya selanjutnya, membuat rakyat negara itu tidak puas.
7. Yaman
Masalah pengangguran dan Al-Qaida menjadi ancaman negara Yaman. Negara yang dipimpin seorang presiden ini berpenduduk 23.4 juta jiwa dan 2.2 juta orang di negara itu punya akses ke jejaring sosial macam Facebook. Tingkat pengangguran di Yaman mencapai 40 peratus.
Aksi-aksi massa seperti di Mesir sudah terjadi di Yaman. Rakyat menuntut reformasi pemerintahan dan perbaikan ekonomi. Eksitensi kelompok Al-Qaida Semenanjung Arab diperkirakan akan membuat gerakan-gerakan rakyat itu menjadi radikal.
8. Pakistan
Tingkat pengangguran di negara yang menerapkan sistem republik demokrasi ini sekitar 14 peratus. Majoriti rakyat Pakistan cukup "melek" teknologi internet dan pengguna terbesar jejaring sosial meski pemerintah membatasi akses internet sejak kes pelecehan terhadap Nabi Muhammad Saw.
Pakistan mengalami menghadapi krisis ekonomi yang akut, lemahnya kepemimpinan dan tidak jelas sikapnya berkaitan dengan hubungannya dengan AS dan Taliban. Kekuatan massa di Pakistan digerakkan oleh kelompok Islam fundamentalis yang antipemerintah. Sementara militer masih menjadi kekuatan terbesar di negara ini. (ln/isc)
0 comments:
Post a Comment