Gaddafi layaknya seorang bunglon, dia boleh berganti-ganti rupa dalam menghadapi berbagai situasi. Di depan para penguasa Afrika, ia bergaya bak pemimpin besar negara-negara Afrika dengan menyerukan berdirinya USA (Unites States of Afrika) yang tentunya dia sendiri akan menjadi pemimpinnya. Di depan negara-negara berhaluan sosialis, Gaddafi dengan manisnya boleh 'berbaur' dengan kalangan sosialis tersebut, sehingga para pemimpin sosialis negara Amerika Latin sangat respek dengan Gaddafi kerana ideanya dalam melawan hegemoni AS.
Dan yang tidak boleh dilupakan, bagaimana Gaddafi boleh berpenampilan sebagai sosok pemimpin yang soleh, meski tangannya berlumuran darah umat Islam. Tidak sedikit aktivis Islam yang dibunuhi mahupun ditangkap oleh Gaddafi selama era kepemimpinannya. Jadi tidaklah menghairankan jika saat ini, ketika dirinya didemo oleh rakyatnya sendiri menuntut pengunduran dirinya, ia tanpa perasaan boleh dan berani membunuh ratusan rakyatnya.
Lazimnya para penguasa thoghut yang mengaku Muslim, Gaddafi juga tidak ketinggalan untuk tampil serta berperanan dalam hal memajukan keIslaman. Belum hilang dari ingatan kita, bagaimana Gaddafi melakukan ritual dakwah yang tidak lazim sewaktu melakukan kunjungan ke Itali beberapa waktu yang lalu.
Dengan menyewa biro jasa iklan, Gaddafi membuat iklan undangan untuk 500 wanita muda Itali yang berpenampilan menarik untuk datang dalam acara 'pesta' yang ia adakan disebuah villa yang ada di kota Roma.
Sekitar 200 wanita Itali akhirnya ada yang memenuhi undangan pemimpin Libya tersebut, kerana mereka telah diberitahu bahwa mereka akan menerima uang sekitar € 60 (90 dollar) dan "beberapa cendera mata dari Libya." Namun apa yang terjadi dalam acara "pesta" tersebut? Gaddafi berceramah kepada para wanita Italia itu tentang Islam dan kedudukan wanita dalam Islam serta tidak ketinggalan memberi 'cendera mata' berupa Alquran kepada para wanita yang telah berhasil ia kibulin untuk hadir dalam acara "pestanya".
Konon Gaddafi juga berhasil mengIslamkan banyak suku yang ada di Afrika, selain berhasil mengIslamkan seorang wanita yang sempat hadir dalam acara "pestanya" di Rom Itali beberapa waktu lalu.
Untuk 'berdakwah' ke luar negeri, Gaddafi membentuk lembaga World Islamic Call Society yang beranggotakan lebih dari 250 organisasi Islam dari seluruh dunia. Menariknya, lembaga ini program-programnya sangat Islami, mulai pembinaan kepada para pemuda, mewujudkan para penghafal Al-Quran, mengadakan buka puasa di seluruh dunia Islam hingga memberikan bantuan ke pihak-pihak yang memerlukannya.
Dan yang tak kalah penting lagi Gaddafi melalui lembaga keislaman yang ia dirikan, membangun banyak masjid di seluruh dunia, yang konon masjid-masjid tersebut bernama seperti nama dirinya, Muammar Gaddafi. Salah satu masjid yang didirikan atas bantuan dana darinya adalah Masjid "Muammar Khadafi" Sentul di komplek perumahan Islam Az Zikra milik da'i kondang Ustaz Arifin Ilham.
Belum ada khabar jika nantinya Gaddafi berhasil digulingkan oleh rakyatnya sendiri, apakah masjid-masjid yang memakai namanya itu akan tetap terpampang di depan masjid atau akan diganti dengan nama lain, seperti revolusi rakyat Mesir yang berhasil menggulingkan Mubarak dan setelah Mubarak turun, semua atribut baik bangunan, hospital yang bernama Mubarak diganti semuanya dengan nama lain.
Bahkan sebuah buku yang dikarang oleh ulama mujahid Syaikh Abdurrahman Hasan yang berjudul 'Qaddafy Musailamah al Ashr : Qaddafy, Musailamah Modern" dengan pengantar dari Syeikh Mujahid Abu Mundzir As Saidy Amir Jama'ah Jihadyah Libya, dengan jelas menyebut kesesatan-kesesatan Gaddafi. (Bisa dilihat terjemahannya di sini)
Yang jelas dunia telah menyaksikan kekejian terang-terangan yang dilakukan oleh Gaddafi dalam menghadapi demonstrasi rakyatnya sendiri. Tercatat ratusan nyawa telah terbunuh ditembak oleh pasukan keamanan Gaddafi yang sebagiannya menggunakan jasa pasukan keamanan 'swasta', bahkan pesawat tempur pun Gaddafi gunakan untuk membungkam aksi rakyatnya. Bisakah Gaddafi dicap sebagai pemimpin Islam setelah semua ini? (fq)
0 comments:
Post a Comment