Tuesday, February 1, 2011

Kesan Revolusi MESIR ke Atas PALESTIN

Ketegangan politik di Mesir ibarat gempa dahsyat yang getarannya menggOncang dunia Arab. Seluruh perhatian dunia menuju ke Negeri Piramid dengan tanda tanya besar akan seperti apa akhir revolusi berdarah itu.

Ali Abunimah, pendiri dan penulis di LAMAN Electronic Intifada menyatakan bahAwa krisis politik di Mesir akan memberikan dampak dramatis bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah, termasuk bagi masa depan Palestin.

Sejauh mana revolusi berdarah akan berpengaruh pada nasib Palestin nantinya, Abunimah dalam analisanya mengungkapkan, jika reJim Mubarak tumbang dan penggantinya adalah tokoh yang tidak terlalu terikat pada Israel dan AS, maka itu Ertinya kekalahan besar buat Israel.

Abunimah mengutip pernyataan pengamat politik Aluf Benn pada AKHBAR Israel Haaretz yang mengatakan, "Melemahnya kekuatan Presiden Mesir Husni Mubarak membuat pemerintah Israel tertekan. Tanpa Mubarak, Israel bOLEH dikatakan hampir tidak punya teman di Timur Tengah. TahuN lalu, Israel terpaksa menyaksikan aliansinya dengan Turki sudah hancur."

Benn mengatakan, Israel tinggal berharap pada dua sekutu strategisnya yaitu Jordan dan Pihak Berkuasa Palestina. Namun menurut Abunimah, Benn lupa bahawa kedua sekutu Israel itu juga tidak terlalu kebal dengan kemungkinan munculnya kekuatan rakyat anti-pemerintah seperti yang terjadi di Mesir.

Dari "Dokumen Palestin" yang dibocorkan stesen televisi Al-Jazeera belum lama ini, tulis Abunimah, jelas terlihat keterlibatan tiga kekuatan; AS, Israel dan Mesir dalam menentukan tindakan terhadap persoalan Palestin, termasuk peranan besar Mesir dalam sekatan di Gaza.

"Jika rejim Mubarak berakhir, AS akan kehilangan pengaruhnya yang besar terhadap situasi di Palestin, dan Presiden Pihak Berkuasaa Palestin Mahmud Abbas akan kehilangan sekutu utamanya dalam melawan Hamas," tulis Abunimah.

Setelah terpojok oleh bocornya "Dokumen Palestin", posisi Pihak Berkuasa Palestin akan makin melemah jika juga terpkasa kehilangan sekutunya di Mesir. PA Palestina pimpinan Mahmud Abbas akah kehilangan kredbilitinya jika ingin melanjutkan proses perdamaian, bahkan dukungan AS dan Eropa yang selama ini memperkuat pasukan keamanan Abbas yang represif, secara politis tidak tidak akan mampu bertahan. Jika situasinya seperti ini, kelompok Hamaslah yang diuntungkan, meski kemungkinan tidak dalam jangka panjang.

Lebih lanjut Abunimah menyatakan, rejim Tunisia dan Mesir bersikap keras kepala kerana merasa bahwa posisi mereka cukup kuat, memiliki kemampuan untuk menzalimi dan mengkooptasi rakyatnya. Faktanya, perlahan tapi pasti, rejim di Tunisia berhasil ditumbangkan, dan dengan cepat rejim di Mesir bahkan mungkin di Yaman juga akan mengalami nasib serupa. Kenyataan ini menjadi pesan bagi rakyat Palestin bahwa, baik Israel maupun Pihak Berkuasa Palestin tidak sekuat seperti yang tampak di permukaan. Israel bahkan sudah terbukti mengalami kegagalan besar dalam usaha mengalahkan Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.

Selain, tulis Abunimah, sudah menjadi rahsia umum bahawa tanpa pendudukan Israel di Tebing Barat dan sekatannya di Gaza, dengan bantuan rejim Mubarak, Pihak Berkuasa Palestin sejak lama sebenarnya sudah tumbang. Tapi atas Pihak Berkuasa Palestin menggunakan alasan proses perdamaian untuk mendapatkan dukungan AS, Uni Eropa, Israel dan pemimpin-pemimpin Arab untuk melanggengkan kekuasaannya di Palestin.

Apa yang terjadi di Mesir menunjukkan bahawa bukan kekuatan militer, tapi kekuatan rakyat dan aksi-aksi protes massa yang mampu membawa perubahan. Saat ini, rakyat Palestin meliputi hampir setengah populasi dalam sejarah Palestin, yang tersebar di Israel, Tebing Barat dan Jalur Gaza. Jika mereka bangkit secara serentak untuk menuntut persamaan hak, apa yang boleh dilakukan Israel untuk menghentikan mereka? Selama ini, tindakan brutal Israel dan kekuatan militernya terbukti tidak pernah berjaya menghentikan aksi-aksitunjuk perasaan anti-Israel di desa-desa Palestin di Tebing Barat.

Israel, kata Abunimah, tidak akan berani melakukan kebrutalan jika rakyat Palestin bangkit seperti rakyat Mesir. Israel lebih takut melihat dukungan dunia internasional terhadap revolusi di Mesir, dibandingkan dengan ancaman militer dari luar. Melihat perubahan kekuatan rakyat dan sikap mereka terhadap pemerintahannya, negara-negara Arab lainnya juga tidak bisa tetap diam atau terus terlibat dalam penjajahan Israel di tanah Palestina\ yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Indikasi itu sudah terlihat di Jordan. Sebagai solidariti atas gerakan rakyat Mesir, ribuan orang yang turun ke jalan dari kalangan Islamis dan oposisi sayap kiri menggelar aksi damai yang antara lain menuntut mundurnya Perdana Menteri Samir Al-Rifai, perbaikan ekonomi dan pembatalan kesepakatan damai dengan Israel.

Satu hal yang pasti dapat dilihat hari ini, apapun yang terjadi di kawasan, suara rakyat tidak boleh diabaikan lebih lama lagi. Pemerintah negara-negara Arab yang responsif terhadap tuntutan rakyatnya sudah saatnya mengkaji ulang hubungan mereka dengan Israel dan AS. (ln/EI)

sumber

0 comments: