Novel, yang berjudul "La ya Syaikh" (istilah bahasa Arab untuk "Oh, benarkah!), menceritakan berbagai bentuk penindasan yang diterapkan kepada rakyat Mesir sebelum dan selama revolusi. Hal ini termasuk penahanan lebih dari 15,000 tahanan politik, menerapkan undang-undang darurat, dan penindasan kebebasan berekspresi oleh staf keamanan negara.
Habib juga berbicara tentang cara polis anti rusuhan menangani para penunjuk perasaan yang memulai revolusi seperti penggunaan gas air mata, peluru kapur dan peluru tajam untuk membubarkan para pendemo.
Novel ini bertujuan menyoroti kemampuan orang-orang Mesir yang mampu mengusir rejim Mubarak.
"Baik saya maupun pendemo membayangkan bahawa revolusi secara spontan berlangsung," kata Habib kepada AlArabiya.net. "Orang-orang Mesir menemukan kemampuan mereka dan hasilnya luar biasa."
Habib, yang saat ini tinggal di Kuwait, menunjukkan perbezaan antara Revolusi 23 Julai tahun 1952, yang dilakukan oleh tentera, dan revolusi 25 Januari tahun 2011, yang dipimpin oleh rakyat.
"Fakta menunjukkan bahawa revolusi ini adalah 100% dari rakyat Mesir yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Mesir."
"Novel ini sebenarnya tidak memihak tren Islam, namun memberikan gambaran realistik mengenai umat Islam yang taat dan menunjukkan bahawa mereka adalah orang-orang biasa, tidak berbeza dari warga Mesir lainnya sebagaimana media Mesir ingin meyakininya."
Novel ini, Habib menambahkan, juga memberikan gambaran tentang represi kekerasan kepada para Islamis dan pembunuhan beberapa pemimpin Islam selama tahun 1990-an, seperti Maged al-Otaifi dan Mohei Alaa al-Din.
"Revolusi dikreditkan untuk membuat gerakan Islam, seperti Ikhwanul Muslimin, muncul sebagai kekuatan nasional."
Habib menjelaskan bahawa Kementerian Dalam Negeri Mesir telah menghambat perkembangan setiap parai politik berorientasi Islam seperti al-Wasat dan Parti Reformasi Islam.
Saeid Habib sendiri adalah anak dari Dr Kamal al-Saeid Habib, seorang anggota terkemuka gerakan Jihad yang menghabiskan 10 tahun waktunya di penjara dan berada di bawah tahanan rumah setelah pembebasannya.
"Saya mendedikasikan buku ini untuk ayah saya," katanya. "Ayah saya selalu memimpikan keadilan dan bersedia mati demi mimpinya itu."
Habib menuduh Kementerian Dalam Negeri mengambil bahagian dalam kecurangan pemilihan parlimen dan memberikan hampir semua kerusi parlimen untuk parti yang berkuasa Parti Demokrasi Nasional.
"Ketika orang tidak diberi hak untuk membuat suara mereka didengar melalui perwakilan mereka di parlemen, mereka tidak menemukan jalan kecuali turun ke jalan dan melakukan revolusi."
Menurut Habib, salah satu prestasi utama revolusi adalah kecaman terhadap aparat Keamanan Negara, Kementerian Dalam Negeri yang dikenal sangat menekan pihak pembangkang demi kepentingan rejim yang berkuasa.
"Saya yakin tidak ada satu rumah pun dari warga Mesir tanpa cerita atau yang lainnya terkait tentang pelanggaran yang dilakukan oleh pasukan keamanan Negara."
Habib juga menyerukan agar dihapuskannya undang-undang darurat, yang memberikan Kementerian Dalam Negeri hak untuk menangkap orang tanpa dakwaan dan menahan mereka selama bertahun-tahun tanpa pengadilan.
"Rakyat Mesir hanya akan merasa bebas setelah undang-undang darurat, yang tidak diterapkan di tempat lain di dunia, dibatalkan. (fq/aby)
0 comments:
Post a Comment