Wednesday, February 16, 2011

Rakyat BAHRAIN Pula Bangkit

Hanya tinggal menunggu waktu, penguasa Bahrain itu, dipastikan akan tumbang. Puluhan ribu rakyat di negeri yang berpenduduk 1,3 juta jiwa itu, mengamuk menuntut perubahan.

Kekuasaan Sheikh Hamad al-Khalifa terancam. Inilah kesan dari revolusi yang terjadi Tunisia dan Mesir, yang sekarang seperti tsunami yang melanda dunia Arab. Para raja dan presiden menggigil menghadapi protes rakyatnya. Mereka takut kehilangan kekuasaannya.

Sekurang-kurangnya satu orang maut dan beberapa lainnya cedera setelah polis anti rusuhan Bahrain melepaskan tembakan kepada para penunjuk perasaan, yang mengiringi jenazah seorang lelaki yangterbunuh dalam aksi protes yang menentang kerajaan.

Korban, Fadhel Ali Almatrook, dipukul dengan gagang senapang, saat berlangsung aksi protes di ibukota Manama, Selasa pagi, ujar Maryam Alkhawaja, kepala hubungan luar negeri di Pusat Bahrain Hak Asasi Manusia, kepada Al Jazeera.

"Pagi ini para penunjuk perasaan berjalan dari hospital ke kuburan dan mereka diserang oleh polis anti rusuhan," kata Alkhawaja.

"Ribuan orang berbaris di jalan-jalan, menuntut turunnya rejim yang berkuasa - kemudian polis menembakkan gas air mata, dan menembakan senjata peluru kapur, dan tampak polis menggunakan kekerasan yang berlebihan - serta banyak jatuh korban dan orang cedera."

Amerika Syarikat, melihat situasi di Bahrain yang merupakan sekutunya, mengatakan "sangat prihatin" dengan terjadinya tindak kekerasan terhadap para penunjuk perasaan", PJ Crowley jurucakap Kementerian Luar AS. "Kami juga meminta semua pihak untuk menahan diri dan menahan diri dari kekerasan", tambahnya.

Sekurang-kurangnya 25 orang dilaporkan mengalami kecederaan dan sekarang sedang dirawat di hospitalt. Mereka berbaris dari pusat kota Manama menuju ke tempat pamakaman. "Polis menembak para demonstran pagi ini, tetapi mereka menunjukkan penentangan yang sangat kuat," kata seorang koresponden Aljazeera.

"Sepertinya mereka diizinkan melanjutkan proses pemakaman, namun polis sedang berusaha menghalang-halangi para pendemo."

Raja Bahrain, Sheikh Hamad bin Isa Al-Khalifa, menyampaikan permintaan atas peristiwa yang terjadi, dan menyebabkan meninggalnya seorang yang ikut dalam akssi prostes itu. Pernyataan maaf itu disampaikan melalui televisyenl. '.

Sekitar setengah dari 1.3 juta kerajaan pulau kecil itu orang Bahrain, dengan sisanya adalah pekerja asing. Sebahagian besar warga Syiah.

Amira Al Hussaini , seorang blogger Bahrain yang memantau media warga untuk Online Global Voices, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa telah terjadi kempen besar-besaran melaui online untuk mengekspresikan kemarahan terhadap pemerintah Bahrain.

"Kami takut akan keluar di jalan-jalan dan menuntut hak-hak kita Tunisia dan Mesir telah memberikan orang-orang di negara-negara Arab harapan -. Bahkan jika Anda percaya sesuatu yang mustahil.

"Saya secara peribadi tidak menghormati polis - mereka berbohong, mereka memanipulasi cerita," katanya. "Ini sedang diadu dengan isu sektarian - Syiah ingin menggulingkan rejim Tapi itu bukan pemberontakan Syiah.."

"Dia mengatakan bahwa orang-orang dari semua latar belakang dan agama berada di belakang aksi protes berlangsung", Amira Hussaini. (m/aljz)

sumber

0 comments: