Israel not the promised land for Russian sex slaves.
Israel bukan tanah yang dijanjikan bagi pelacur Rusia. Demikian judul tulisan jurnalis Elisabeth Eaves, yang dimuat dalam lamannyanya, 23 Ogos 1998. Eaves yang bergiat di bidang pemberdayaan wanita mengutip data yang dikeluarkan Israel Womens Network, sebuah lembaga nirlaba wanita yang berpusat di Tel Aviv, yang menyatakan bahawa lebih dari 70% pelacur di Tel Aviv datang dari negara-negara pecahan Uni Sovyet.
Menurut dana yang ada, setiap tahun, lebih dari 1,000 wanita muda dari wilayah-wilayah tersebut membanjiri Tanah Palestin yang diduduki bangsa Zionis-Yahudi ini. Mereka dapat masuk ke Israel kerana adanya kerjasama antara jaringan Mafia Rusia dengan Mafia Zionis-Israel, dan juga atas restu para pegawai, para pemuka agama, dan polis setempat yang korup.
Menurut Eaves, para wanita muda asal Rusia menganggap bahawa Zionis-Israel merupakan syurga bagi kegiatan prostitusi. Secara rasmi pegawai Zionis-Israel memang melarang keberadaan pelacuran di wilayah pendudukan tersebut. Namun dalam kenyataannya, banyak kalangan mengetahui rata-rata para wanita muda itu malah digiring ke wilayah-wilayah yang dekat dengan pemukiman orang-orang Palestin, di mana ‘pemerintah’ Zionis-Israel banyak mendirikan bar, diskotik, dan rumah-rumah bordil. Pendirian tempat-tempat maksiat di daerah yang berdekatan dengan kem-kem pelarian dan rumah-rumah orang Palestin ini disengaja oleh Zionis-Israel untuk menggoyahkan keimanan pemuda-pemuda Palestin dan menghancurkan moral anak-anak kecilnya.
Bukan hanya wanita muda, Israel juga memperdagangkan kanak-kanak di bawah umur untuk dijadikan budak-budak pemuas syahwat, baik kepada orang-orang Yahudi sendiri maupun kepada orang-orang Arab. Di kota Tel Aviv saja, dalam jangka satu tahun, wang yang berputar dalam dunia prositusi mencapai 450 juta dollar, menurut Jewis Online Magazine, Social Action (Socialaction.com).
Sebuah laporan dari Harian Israel, Haaretz (22 Juni 2001), menyatakan, “Seorang pemandu trak sampah yang bekerja sambilan sebagai penjaga sinagog di pusat kota Tel Aviv telah dijatuhi hukuman oleh Mahkamah DaerahJerusalem atas tuduhan jenayah seksual terhadap kanak-kanak di bawah umur yang mengunjungi sinagog itu. Sekurang-kurangnya, tiga kanak-kanak telah menjadi korban, termasuk seorang yang berusia 13 tahun yang merupakan anak lelaki dari salah seorang pegawai tinggi sinagog yang namanya tidak disebutkan tersebut.
Menurut harian Israel itu, pelaku mendekati mangsa awalnya dengan membujuk mangsa agar mencicip narkotik. Ketika sang anak telah mencicip narkotik, maka pelaku mengancam akan memberitahukan kepada orangtua mangsa. Anak itu tentu ketakutan dan berharap pelaku tidak memberitahu kedua orangtuanya. Maka pelaku mulai memasang perangkap. Ia berjanji tidak akan melaporkan hal tersebut asal korban mahu melayani hawa nafsunya.
‘Pemerintah’ Israel dalam tindakan rasminya memang melarang segala bentuk pelacuran dan kemaksiatan lainnya. Peraturan dan perundang-undangan juga telah dikeluarkan untuk itu. Namun yang harus kita cermati, definisi pelacuran dan kemaksiatan bagi orang-orang Yahudi itu ternyata berbeza sekali dengan apa yang sudah menjadi pemahaman umum dunia. Tindakan Zionis-Israel seluruhnya bersandar pada Talmud. Inilah asas ideologi mereka dalam setiap tindakan dan sikapnya. Talmud dianggap lebih suci dan lebih tinggi berbanding Taurat.
Dalam Talmud, kejahatan seksual hanya dapat dikategorikan perbuatan jenayah jika itu dilakukan lelaki Yahudi terhadap perempuan Yahudi lainnya. Atau terhadap sesama orang Yahudi. Kerana hanya orang Yahudilah yang dianggap sebagai manusia. Sedang jika seorang lelaki Yahudi memperkosa perempuan non-Yahudi (Ghoyim), atau jika ia seorang pedofili Yahudi ‘menggarap’ lelaki non-Yahudi, maka perbuatan itu bukanlah dosa, malah memberinya “rahmat Tuhan”.
Dasar pemikiran ini berangkat dari ayat-ayat Talmud yang menyatakan bahawa hanya orang-orang Yahudi saja yang manusia, sedangkan orang-orang non-Yahudi (Gentiles atau Ghoyim) bukanlah manusia melainkan sederajat dengan binatang. Jadi, melakukan kejahatan terhadap ‘binatang’ itu sama sekali tidak berdosa. [bersambung/rizki]
0 comments:
Post a Comment