Monday, June 27, 2011

MESIR - Lagi Parti Baru oleh Ahli Ikhwan

Beberapa anggota jemaah Ikhwanul Muslimin Mesir, termasuk tokoh senior terkemuka, memutuskan untuk membentuk parti politik baru hari Ahad (26/6), yang langkah ini semakin memperlihatkan retakan lebih lanjut dalam kelompok Islam yang paling berpengaruh yang diharapkan menjadi pesaing paling tangguh dalam pilihanraya Mesir akan datang.

Ikhwanul Muslimin adalah kelompok pembangkang yang paling kuat dan terurus baik sebelum Presiden Hosni Mubarak digulingkan pada 11 Februari lalu dalam pemberontakan rakyat. Ikhwan diperkirakan akan menang besar dalam pemilihan parlimen yang ditetapkan berlangsung pada bulan September.

Tapi gerakan ini juga menghadapi tantangan baru pasca-revolusioner Mesir, dimana keterbukaan politik menjadi banyaknya perbezaan dalam kelompok Islam ini. Beberapa faksi - paling akhir beberapa anggota muda Ikhwan - telah memisahkan diri untuk membentuk parta baru yang akan menjadi saingan bagi Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik reami Ikhwan.

Ikhwan sendiri cukup khuatir dengan maraknya gerakan-gerakan sempalan dan telah mengancam akan mengusir anggota yang bergabung dengan parti lain diluar bentukan Ikhwan dan telah memecat keluar seorang anggota terkemuka Ikhwan yang memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden Mesir.

Parti pecahan terbaru yang dipelopori oleh beberapa anggota yang disebut kem reformsi Ikhwan, diumumkan Minggu kemarin (26/6) di mana mereka membentuk sebuah blok terpisah yang disebut al-Riyada, Arab untuk Pionir.

Pandangan parti baru ini menganggap Islam sebagai dasar kebudayaan Mesir, tapi tidak dalam politiknya, kata Khalid Dawud, seorang tokoh senior Ikhwan yang sekarang menjadi hujung tombak al-Riyada. "Budaya Mesir adalah Islam, mengapa kita perlu bersusah payah?" kata Dawud kepada The Associated Press.

Ikhwan sendiri sebaliknya, berbaris di bawah bendera "Islam adalah solusi" dan memandang Syariah Islam dilihat sebagai dasar dari masyarakat.

Dawud mengkritik Ikhwan kerana tidak membuat pemisahan yang jelas antara misi jemaah sebagai organisasi dakwah Islam dan parti politik. Dia juga mengkritik apa yang disebut praktik tidak demokratik dalam jamaah.

"Bagaimana anda menunjuk nama pemimpin parti sebelum Anda melakukan pemilihan internal?" tanyanya, merujuk pada penunjukkan kepemimpinan parti.

Dawud awalnya bergabung dengan Ikhwan pada 1970-an sebagai sebahagian dari generasi muda Islam pada saat kelompok itu sangat lemah oleh tindakan keras pemerintah di bawah Presiden Gamal Abdel Nasser, yang mengirim ribuan anggota Ikhwan ke penjara dan mengeksekusi pemimpin puncaknya.

Seorang anggota terkemuka Ikhwan, Abdul-Munim Abul-Futtuh, telah mengumumkan rancangannya untuk mencalonkan diri untuk pemilihan presiden mendatang, melanggar keputusan Ikhwan yang tidak mencalonkan capres. Abul-Futuh sendiri telah dipecat kerana melanggar aturan jemaah.

Abul-Futtuh dianggap merupakan wajah yang paling moderat dari Ikhwan. Dalam banyak tulisannya, ia telah menyatakan bahawa purdah tidak sebagai pakaian Islami melainkan pakaian tradisional seperti Sari di India, lebih dari identiti nasional dari kewajiban agama. Dia juga mendukung hak-hak kelompok apapun di Mesir bahkan ateis.(fq/ap)

sumber

0 comments: