Tuesday, March 6, 2012

SYRIA - Pengalaman di Penjara


SYRIA (Arrahmah.com) - Seorang aktivis Syria bercerita kepada Asharq Al-Awsat . Cerita tentang pengalaman penahanannya di penjara Damsyik, mengatakan bahawa maskar besar pasukan “keamanan” presiden Bashar al-Assad telah menjadi seperti “kuburan-kuburan berapi” dimana para “pemberontak” diseksa.

Pada akhirnya melarikan diri ke Mesir, Aktivis Tariq Sharabi mengingat kembali kengerian yang ia alami setelah memasuki markas besar “pasukan keamanan” Bashar Assad di ibukota Syria, Damsyik. Bangunannya 8 tingkat, dengan dinding-dinding luar dan gerbang besi yang dilindungi oleh para pasukan garda bersenjata berat. Setiap tingkat memiliki koridor remang-remang berjejer dilapisi dengan 40 pintu sel penjara berpintu besi.

Tariq Sharabi (26), asli Damsyik, mengungkapkan kepada Ashraq Al-Awsat apa yang ia lihat dan dengar dibalik wilayah “keamanan” Bashar Assad di Damsyik.

Sharabi dibawa, bersama yang lainnya. Ke markas besar pasukan “keamanan” di Damsyiks, “Disana ada 200 dari kami di dalam sebuah ruangan yang tidak memiliki ventilasi. Dinding-dindingnya dipahat dan menakuti-nakuti, seperti sebuah kuburan.” Ketika Sharabi menceritakan pengalamannya di penjara sadis Bashar Assad, raut wajahnya menunjukkan kengerian dan dukacita. Ia lanjut mengatakan, “Setelah dua jam dipukul dan dicaci-maki, kami dibawa ke ‘pejabat investigasi’. Saat saya keluar dari sel dalam perjalanan ke pejabat tersebut, ada sebuah koridor lebih dari 20 meter panjangnya di depan saya dengan pintu-pintu besi yang juga di dalamnya (sekitar 40 pintu total per lantai). Kami mendengar jeritan dari mereka yang sedang diseksa dan mereka yang sedang direnjat dengan elektrik.

Sharabi melanjutkan, “tubuh-tubuh kami bergetar saat kami mendengar teriakan-teriakan itu..pada saat yang sama saya berdiri di depan salah satu sel ketika saya melihat sekilas seorang lelaki telanjang digantung kakinya (kakinya diatas -red) dengan darah mengalir dari tubuhnya. Dagingnya telah robek kerana luka cambukan, dan mereka (para petugas penjara biadab) melanjutkan memukulnya dan menyiksanya dengan tongkat dan cambuk.” Sharabi melanjutkan lagi, “kami dibariskan menuju ruangan investigasi di lantai ketiga, kami mendengar suara keras dibalik salah satu pintu sel, bernyanyi untuk Bashar Al-Assad, untuk meningkatkan ketakutan kami tentang apa yang sedang kami hadapi. Ketika kami sampai di lantai tiga, saya merasakan bahawa kami akan dibunuh kerana apa yang kami lihat dan kami dengar”.

Sharabi menjelaskan bahawa, “Mereka tidak menutup mata kami..mereka ingin kami ketakutan sehingga kami mengatakan segalanya kepada mereka. Kemudian seorang lelaki memasuki ruang investigasi dengan memakai pakaian awam, yang mengatakan kepada kami bahawa dia adalah direktur operasi. Dia berkata kepada kami bahwa kami berada di pejabat keamanan negara, dan menyatakan kami dituduh kerana berada di daerah demonstrasi yang diketahui. Dan kami telah ditangkap kerana berusaha mencuba menyusun sebuah gerakan (demonstrasi). Tentu saja saya membantah semua itu, mengatakan kepada petugas itu bahawa saya melakukan shalat di Masjid al-Dakak dan kemudian dalam perjalanan saya ke rumah atuk saya. Direktur itu kemudian melihat kepada petugas dan memerintahkannya untuk membawa saya ke sebuah ruangan sendirian, dimana saya ditahan selama hampir empat jam”.

Sharabi kemudian mengungkapkan bahawa ia dibebaskan setelah menjadi sasaran sesi penyeksaan, dan setelah dipaksa untuk menandatangani sebuah pernyataan untuk tidak mengambil bahagian lagi dalam demonstrasi, Sharabi menambahkan, “jika pasukan keamanan negara telah mengkonfirmasi yang mereka miliki tentang saya, saya akan tetap dikunci di dalam penjara keamanan negara”. Sharabi mengatakan bahawa hanya empat orang yang dibebaskan dari sekitar 200 orang yang ditahan bersamanya, Sharabi menganggap “markas besar keamanan negara Bashar al-Assad adalah seperti kuburan api dimana para revolusioner diseksa”.


oleh: Amr Ahmed

Asharq Al-AwsatLink


sumber

0 comments: