Thursday, March 28, 2013

BURMA - Sami Rasis Seru Pulaukan Umat Islam



Seorang sami Buddha, Saydaw Wirathu, dalam sebuah rakaman video yang muncul di YouTube, menyeru umat Buddha untuk memboikot bperniagaan Muslim di Myanmar, demikian yang disiarkan Internasional Business Times, Selasa (26/3/2013)

Wirathu yang telah memimpin kempen melawan Muslim di Burma dan pernah ditangkap pada tahun 2003 kerana mendistribusikan literatur anti-Muslim, mendesak rakyat Burma untuk bergabung dengan kempen 969 Buddha Nasionalis dan hanya melakukan perniagaan atau berinteraksi dengan ras atau keyakinan sejenis.

“Pembelian anda di mereka mereka hanya akan menguntungkan musuh,” ujar Wirathu. “Jadi, lakukan perdagangan hanya dengan kedai-kedai dengan tanda 969 di depan kedai mereka.”

Penyebutan 969 berasal dari tradisi Buddha dimana 9 adalah singkatan atribut khusus Buddha, 6 untuk pengajaran atau Dhamma dan 9 atribut khusus untuk Sangha atau perintah Buddha.

Wirathu menuduh Muslim memiliki hubungan dengan junta militer yang berkuasa selama lima dekad di Myanmar.  Ucapan rasis ini menciptakan berbagai reaksi di Twitter dan para penggunanya menyebut sang sami sebagai neo-Nazi yang menghasut dan menciptakan propaganda anti-Muslim.

Wirathu memiliki peranan aktif dalam menciptakan ketegangan di pinggiran Rangoon pada Februari 2013 lalu dengan menyebarkan rumor tak berdasar bahawa sekolah setempat sedang dikembangkan menjadi sebuah Masjid, demikian laporan Democratic Voice of Burma.

Massa marah, sekitar 300-an penganut Buddha menyerang sekolah, kedai-kedai milik Muslim di Rangoon.  Biarawan itu mendakwa bahawa militansi sangat penting untuk melawan “ekspansi agresif oleh Muslim”.  Ia juga terlibat dalam pertempuran di Mandalay yang mengorbankan puluhan orang.
Pertempuran meletus minggu lepas di kota Meikhtila, Myanmar. Massa umat Budha, beberapa di antaranya dipimpin oleh para biksu, telah menyerang pemukiman Muslim dan mengorbankan sekurang-kurangnya 32 orang.

Muslim di Myanmar berjumlah sekitar 4 peratus dari total populasi 60 juta jiwa, menurut bancian pemerintah.  Namun menurut laporan kebebasan beragama internasional Kementerian Luar Negeri AS pada tahun 2006, populasi non-Budhis kemungkinan banyak yang diremehkan dalam bancian.  Para pemimpin Muslim memperkirakan bahawa sebanyak 20 peratus dari total populasi adalah Muslim. 
sumber

No comments: