Sunday, July 7, 2013

Isu MESIR - Hamas Bersedih, Abbas Ucap Tahniah

Pemimpin gerakan Hamas di Gaza menyatakan keprihatinan yang mendalam atas perubahan dramatik di Mesir setelah tentera Mesir menggulingkan Presiden Mohamed Morsi .
Para pengamat mengatakan penggulingan Mursi dan jatuhnya kelompok Islam di sana merupakan mimpi buruk bagi Hamas di Gaza kerana hubungan yang kuat antara kedua kelompok Islam yang sangat bersejarah, dan kejadian ini ini akan membawa tekanan yang berat bagi Gaza dan Hamas.
Tiga hari lalu, pasukan keamanan Mesir memperketat langkah-langkah keamanan di daerah perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir, di mana mereka (tentera Mesir) menghancurkan 20 terowong penyeludupan dan menutup perbatasan Rafah sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Para pengamat juga percaya bahwa pengaruh situasi di Mesir dan negara-negara Arab lainnya mungkin akan melemahkan posisi Palestin dalam menghadapi Israel sebagai negara-negara yang kini sibuk dengan memperbaiki urusandalamnya. Hamas berhati-hati dan menahan diri dari bereaksi terhadap apa yang terjadi di Mesir.
Sedangkan pihak berkuasa Palestin, Abbas  menyatakan bersikap neutral terhadap krisis di Mesir, namun Presiden Abbas mengirimkan ucapan selamat kepada Presiden sementara Mesir setelah penggulingan Mursi. Bahkan Abbas memuji tentera Mesir atas usaha mereka untuk mengembalikan ketenangan dan menghentikan kerosakan berlanjutan.
Ismail Haniya, tokoh Hamas dan Perdana Menteri pemerintahan Gaza mengatakan “Masyarakat kami mungkin sedih tentang apa yang mereka lihat di sini atau di sana, tapi ini tidak bererti bahawa negara-negara yang berada di wilayah ini tidak mendukung rakyat kami dan resistensi mereka untuk mengakhiri pengepungan atas Gaza.”
Zeyad Zaza, wakil Haneya mengatakan kepada Xinhua bahawa gerakan dan pemerintahnya memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan internal Mesir atau negara Arab lainnya, dia menambahkan ,”Kami tidak mengharapkan adanya tindakan negatif yang akan mempengaruhi ikatan kuat Palestin dengan Mesir. ”
Mursi telah berulang kali menerima para pemimpin dan pejabat Hamas di Kaherah pada tahun lalu, di mana ia membuka pembatasan yang diberlakukan atas Rafah, tapi setelah Mursi digulingkan, analisis politik menyatakan keprihatinan bahawa perubahan di Mesir ini akan tidak melayani kepentingan Jalur Gaza.
Mekhemer Abu Se’da, profesor ilmu politik di Universitas al-Azhar di Gaza mengatakan kepada Xinhua bahawa “perubahan yang sedang berlangsung di Mesir tidak akan menguntungkan bagi Hamas atau kepentingan Jalur Gaza pada masa akan datang.”
Ketika Mursi memenangkan pemilihan presiden, Hamas merayakan dengan hampir seluruh masyarakat Jalur Gaza dan para pejuang Hamas  menembakkan ke udara. Gerakan Islam ini  senang juga ketika Gerakan Ikhwanul Muslimin juga berhasil menguasai pemerintahan di Tunis, di Mesir dan di banyak negara Arab dan Negara Islam lainnya.
Selama pemerintahan satu tahun Mursi, Hamas di Gaza dituduh oleh media Mesir sekular,  ikut campur tangan dalam urusan internal Mesir dengan mendukung Mursi dan gerakan Islamnya. Abu Se’da mengatakan “tuduhan Mesir yang berlebihan dan tidak dapat dibenarkan.”
Tindakan militer Mesir akan lebih ketat pada Hamas dan Jalur Gaza, terutama menutup terowongan dan menutup pintu Rafah untuk jangka waktu lama sampai situasi politik di Mesir reda.
Pada November tahun lalu, Mesir menjadi orang tengah sebuah perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang mengakhiri lapan hari perang udara Israel di Jalur Gaza. Mesir telah juga menjadi orang tengah pembicaraan rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah,  Partinya Abbas. 

No comments: