Saturday, July 20, 2013

MESIR - Kristian Koptik, Liberal, Sekular Bergembira Jatuhnya Mursi

Saat tentera Mesir menggulingkan Presiden Mohammed Mursi, pengacara Kristian Peter Naggar merayakan dengan sukacita di Tahrir Square , sukacita yang lebih besar daripada ketika Hosni Mubarak jatuh dari kekuasaan dua tahun lalu.
Naggar sangat lega bahAwa setahun pemerintahan Islam telah berakhir dua minggu lalu, tetapi  banyak anggota minoriti Kristen masih khuatir Mursi dan Ikhwanul Muslimin tidak akan menyerahkan kekuasaan dengan begitu mudah.
Namun, Naggar senang melihat bahagian Ikhwan menjadi lemah. “Ini adalah revolusi Mesir yang nyata,” kata Naggar, yang telah bergabung protes rakyat di Kaherah pada 30 Jun menuntut Mursi pergi. “Orang-orang berdiri melawan Islamisme. Ini adalah akhir dari politik Islamisme. ” tambahnya.
Paus Tawadros II dari Kristen Koptik juga mendukung militer, berdiri dengan para pemimpin liberal dan sekular di samping ketua angkatan bersenjata Abdel Fattah al-Sisi ketika dia mengumumkan penurunan Mursi pada 3 Jul.
“Saya masih khuatir kerana Ikhwan tetap memprotes,” kata salah satu penganut Kristian di Mesir, Habib.
Habib salah satu dari ratusan pemuda Kristian di katedral yang pada bulan April lalu terlibat kerusuhan antara Kristian Koptik dan Islam, yang melemparkan bom molotov .
Kementerian Dalam Negeri saat itu menyalahkan orang Kristian, kerana memulai masalah dengan membuat kerusuhan dan membakar kereta.
Selama kekuasaan presiden Mursi, Paus Tawadros mengatakan dia merasa Kristian diabaikan oleh pemerintah yang dipimpin Ikhwan. Kristian Koptik mengancam akan beremigrasi “kerana mereka takut rejim Mursi,” katanya.
Koptik senang bahawa kabinet sementara yang baru, yang akan memerintah sampai pemilihan umum dilaksanakan, berisi perwakilan Kristian yang cukup banyak iaitu tiga orang Kristian termasuk tokoh liberal Mounir Fakhry Abdel Nour sebagai menteri sentral ekonomi dan investasi. Pada Kabinet Mursi yang lalu hanya satu Menteri Kristian di jabatan menteri Riset.
“Ini adalah pemerintahan untuk semua orang Mesir,” kata Naggar. 
Ancaman terbesar kaum liberal dan “Muslim” sekular adalah mereka akan gagal lagi untuk mengatasi perpecahan mereka, katanya. Ini boleh menyerahkan kemenangan pemilu berikutnya kepada kelompok Islam yang telah memenangi setiap pemilihan suara sejak penggulingan Mubarak,  kerana mereka lebih terorganisir daripada lawan-lawan mereka.
“Revolusi kita ini mungkin akan dikuasai untuk kedua kalinya oleh Ikhwanul Muslimin pada pilihan rayaberikutnya melalui kotak suara, makanya kita mesti solid dan bersatu-padu,”kata Sidhom. sumber

No comments: