Thursday, July 4, 2013

MESIR - Perihal Rampasan Kuasa oleh Tentera

Jeneral Abdel Fattah al-Sisi membuktikan dirinya sebagai presiden Mesir yang sebenarnya, sekaligus menegaskan bahawa lembaga militer merupakan satu-satunya unsur yang solid dan mampu untuk membatalkan hasil pemilihan umum bila-bila saja ia menghendakinya, dengan slogan “memenuhi keinginan rakyat dan menjaga kepentingan nasional”.
Ini merupakan rampasna kuasa militer, dalam wajah awam, dengan topeng agama. Inilah yang menginterpretasikan penyertaan Syeikh Al-Azhar dan Paus Kristian Koptik dalam proses pengambilan keputusan pemecatan Presiden Mursi dan gerakan Ikhwanul Muslimin, serta melemparkan mereka ke dalam ketidak jelasan, yang barangkali juga berujung pada humbanan ke dalam penjara-penjara, berdampingan dengan sel mantan Presiden Husni Mubarak dan kroni-kroninya.
Ketika kita mengatakan ini adalah rampasan kuasa militer dalam wajah rakyat, maka yang kami maksudkan adalah lembaga militer memilih presiden awam sebagai pegawai sementara, iaitu ketua Mahkamah Konstitusi, lalu lembaga militer menyerukan pemilihan presiden dan pemilihan legislatif pada waktu enam bulan akan datang, serta membentuk panitia ahli untuk menyusun konstitusi baru.
Jeneral Abdel Fattah al-Sisi tidak mengikuti langkah pendahulunya, Jeneral (purnawirawan) Husain Tanthawi yang memimpin Dewan Militer. Jeneral Al-Sisi lebih memilih sebagai “pembuat raja” dan duduk di kerusi kepemimpinan tanpa menjadi pemimpin langsung. Persis seperti posisi Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin atau Mursyid A’la (Pemimpin Tertinggi) dalam Revolusi Iran.
***
Sudah jelas sekali, lembaga militer Mesir memilih berpihak kepada kelompok yang lebih mampu mengerahkan jutaan massa di lapangan-lapangan dan jalan-jalan Mesir, sesuai pernyataan sikap militer yang dsiarkan petang semalam.  Namun juga jelas sekali bahawa Ikhwanul Muslimin yang terpaksa menunggu 90 tahun untuk mencapai kerusi kekuasaan, kini merasa menjadi korban dan kerusi kepresidenan dicuri dari mereka, baik kita sepakat dengan pemikiran itu mahupun tidak sepakat dengannya.
Pendukung gerakan pembangkangan yang mengerahkan jutaan rakyat ke Tahrir Square dan Istana Kepresidenan  merayakan kemenangan mereka dengan perayaan yang lebih meriah berbanding perayaan saat rakyat menjatuhkan mantan Presiden Husni Mubarak. Itu hak mereka, kerana cita-cita mereka telah teraih dan tuntutan mereka untuk menyingkirkan “Kepemimpinan Mursyid ‘Aam” telah dipenuhi, seperti slogan yang selalu mereka kumandangkan selama beberapa hari dan beberapa minggu yang lalu.
Tentera Mesir telah merencanakan peristiwa hari ini dengan sangat baik. Nampaknya Tentera Mesir telah mengambil pelajaran dari pengalaman Tentera Turki yang memainkan dirinya sebagai “Pelindung Negara Rakyat” dan menghalangi “kaum fundamentalis Islam” dari memegang kerusi kekuasaan, meskipun melalui jalur Pemilihan Umum, seperti yang diraih oleh Parti Refah wa Sa’adah pimpinan Najmuddin Erbakan.
Ketika kita menyatakan Tentera Mesir telah merencanakan peristiwa hari ini dengan sangat baik, maka yang kita maksudkan adalah dengan dukungan dan lkesetiaan dari lembaga Al-Azhar, Gereja Koptik Mesir, Oposisi Front Penyelamatan (Jabhah Inqadz) dan Gerakan Pembangkangan (Harakah Tamarrud) yang merektrut generasi muda. Tentera Mesir telah memberdayakan semua unsur tersebut dan kekuatan anggotanya untuk mendukung intervensi militer yang menentukan nasib.
Pertanyaannya saat ini adalah bagaimana cara Jeneral Al-Sisi menjajakan pelan yang ia lontarkan tersebut kepada pihak yang dirugikan, iaitu Ikhwanul Muslimin, dan kemudian apa respon Ikhwanul Muslim terhadap pelan tersebut?
Sudah pasti sebuah gerakan yang memiliki dukungan rakyat yang kuat (Ikhwanul Muslimin, edt) tidak boleh diremehkan, khususnya di wilayah pesisir Mesir. Sebelumnya telah dikatakan oleh Presiden Muhammad Mursi, Dr. Muhammad Baltaji dan Dr. Isham al-Uryan, bahawa Ikhwanul Muslimin tidak akan diam dan akan berjuang demi membela legalitai kepemimpinan sampai titis darah penghabisan.
Ada dua sayap dalam kelompok Ikhwanul Muslimin. Sayap rajawali yang direpresentasikan oleh Muhammad Mursi dan Muhammad Baltaji, dan sayap merpati yang direpresentasikan oleh sejumlah tokoh seperti Khairat Shatir dan Sa’ad al-Katatani pemimpin Parti Kebebasan dan Keadilan.
Meskipun sebagian pihak mengatakan tidak ada perbezaan di antara kedua sayap tersebut dan persoalannya sebatas masalah pergantian peranan saja dan bahawa masih terlalu awal untuk menyatakan sayap mana yang akan mengalahkan sayap lainnya. Namun ketika Muhammad Mursi berbicara dengan berdiri dan menyelempangkan kain kafan di atas bahunya, dan ketika Muhammad Baltaji menegaskan akan terus “berperang” demi mempertahankan kepemimpinan legal sampai titik darah penghabisan, dan ia menyerukan kepada para pendukungnya untuk berjuang sampai meraih kesyahidan, maka kita boleh memperkirakan peristiwa paling buruk.
***
Mesir telah terbagi-bagi sebelum adanya pernyataan rasmi lembaga militer. Kini Mesir semakin terpecah-belah. Kita tidak merasa aneh atau tidak merasa mustahil jika nanti terjadi pergantian peranan, di mana kelompok pembangkang meninggalkan lapangan-lapangan dan jalanan, digantikan oleh kumpulan yang dirugikan, dalam jumlah yang lebih besar.
Peristiwa rampasna kuasa militer di Algeria kini terulang di Mesir, dengan sedikit perbezaan, yaitu militer Algeria membatalkan hasil pilihanraya yang dimenangkan oleh kelompok Islam, sebelum kemenangan pilihanraya itu rasmi diumumkan. Sementara militer Mesir membatalkan hasil pilihanraya setelah pilihanraya itu nampak jelas hasilnya.
Syeikh (Rektor Universitas) Al-Azhar kelmarin mengatakan: “Mesir sekarang dihadapkan pada salah satu dari dua pilihan. Pilihan yang paling buruk adalah mengalirnya darah rakyat di atas tanah Mesir, oleh kerana itu kita wajib mengamalkan kaedah syariat yang menyatakan menempuh pilihan yang paling ringan dari dua pilihan bahaya.”
Kita sepakat dengan Syeikh Al-Azhar Ahmad at-Thayib dalam menjelaskan kaedah ini. Namun kita tidak meyakini optimismenya tersebut. Sebab, pilihan bahaya yang paling ringan dari dua pilihan bahaya yang ada tersebut, mungkin akan menjadi pilihan bahaya paling besar atau sebab terjadinya peperangan saudara di Mesir.
Kami menentang penumpahan darah, kami juga menentang penggunaan senjata sebagai kata pemutus konflik apapun alasannya. Oleh kerananya kami mengharapkan lebih kuatnya penggunaan akal sihat, hendaknya Ikhwanul Muslimin menerima perkara tersebut dan rela menelan racun tersebut, lalu mempersiapkan diri untuk menghadapi pemilihan presiden dan pemilihan legislatif yang akan datang.
Dengan demikian, Ikhwanul Muslimin boleh menegaskan kepada bangsa Mesir sikap damai Ikhwanul Muslimin, keseriusan mereka untuk kepentingan Mesir dan menjaga nyawa rakyat Mesir, dan hendaknya mereka melakukan hal yang tidak dilakukan oleh lawan mereka, maksudnya hendaklah mereka menyelesaikan perkara mereka melalui pilihanrayaakan datang.
Kami terlalu berlebihan dalam menyampaikan optimisme kami, ya memang, kami menawarkan pikiran yang terlalu “lugu” dalam pandangan sebahagian pihak. Memang, namun kami menyampaikan ini kerana sangat cintanya kami kepada Mesir dan keinginan besar kami untuk menjaga nyawa rakyat Mesir, di saat kita bisa melihat keadaan yang terjadi di negara-negara tetangga, khususnya Syria, Irak dan Libya.
Penulis: Abdul Bari Athwan

No comments: