Friday, August 16, 2013

TURKI - Erdogan Kutuk Barat

Pemakaman korban yang gugur  dilakukan sepanjang hari Khamis ini , dan juga pada hari Jumaat esok, hari utama bagi Muslim , diperkirakan kemarahan akan  tumpah di jalan-jalan seantero Mesir.
“Saya fikir besok (Jum’at) akan menjadi hari besar bagi demonstrasi protes di seluruh Mesir, dengan potensi kekerasan yang sangat tinggi,” kata Yasser El-Shimy, analis International Crisis Group untuk Mesir.
Pembantaian ini adalah pembunuhan massal ketiga ke atas pendemo Islam sejak Mursi digulingkan enam minggu lalu, tetapi skala pertumpahan darah Rabu lalu  mengisyaratkan bahawa militer bertekad untuk memperketat cengkamannya pada negara.
Presiden Prancis Francois Hollande memanggil pulang duta besar Mesir untuk menuntut segera menghentikan Militer Mesir lakukan tindakan keras.
“Ketua negara menegaskan bahawa segala sesuatu mesti dilakukan untuk menghindari perang saudara,” kata Istana Elysee dalam sebuah pernyataan pada hari Khamis. “Membebaskan tahanan, boleh menjadi langkah pertama menuju dimulainya kembali pembicaraan.”
Di Ankara, Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk bersidang dan bertindak cepat setelah apa yang ia gambarkan sebagai pembantaian di Mesir.
“Saya mengimbau  wahai negara-negara Barat. Anda telah bertindak  diam di Gaza, Anda juga tetap diam (krisis) di Syria … dan Anda masih juga diam di Mesir… Jadi kenapa Anda berbicara tentang demokrasi, kebebasan, nilai-nilai global dan hak asasi manusia?” Erdogan nyatakan dengan kekesalan dalam sidang media.
Tapi Uni Emirat Arab, salah satu dari beberapa negara Arab Teluk sangat resah oleh kemenangan Mursi dalam pemilihan 2012, menyatakan dukungan untuk penindasan oleh militer , UEA mengatakan pemerintah Mesir telah “melakukan pengendalian diri secara maksimal”.
Ikhwanul Muslimin mengatakan korban jiwa yang sebenarnya jauh lebih tinggi,  jurucakap Ikhwan mengatakan 3.000 orang telah terbunuh dalam “pembantaian”.
Keadaan darurat dan jam malam diumumkan dan tentaera melakukan  penangkapan dan penahanan tak terbatas itu persis seperti zaman  puluhan tahun di bawah  Hosni Mubarak yang digulingkan dalam pemberontakan rakyat 2011. (Aljazeera/Dz) sumber

No comments: