Tuesday, February 4, 2014

Keturunan Yahudi di Negara CHINA

Orang-orang Yahudi Keifeng, keturunan pedagang Parsi yang tiba di Cina pada abad ke-11, berjuang untuk diakui sebagai orang Yahudi, baik di negeri yang mereka tinggal dan ataupun di Israel.

Ada lima agama rasmi di Cina, dan dan terdapat 55 golongan minoriti yang rasmi. Orang-orang Yahudi tidak berada di bawah salah satu kategori tersebut, namun sekelompok kecil orang Yahudi berada di Kaifeng, mereka adalah keturunan pedagang Parsi yang datang sekitar abad ke-11 ke China, demikian Wall Street Journal melaporkan pada hari Selasa lalu.

 Sebenarnya pemerintah Cina menolak untuk mengakui warisan Yahudi, mendakwa tidak ada orang Yahudi China, dan pemerintah Israel sendiri memerlukan seorang rabi untuk mengakui Yahudi China.

“Mereka mungkin berasal dari keturunan Yahudi, tetapi mereka bukan orang Yahudi,” kata Rabi Shimon Freundlich, yang mengurus Gedung Chabad ortodoks di Beijing, seraya menambahkan “belum ada komuniti Yahudi di Kaifeng selama 400 tahun.”

Meskipun demikian, banyak orang Yahudi Kaifeng mesti berpegang teguh pada tradisi tertentu, meskipun signifikansinya tidak diketahui.

“Dalam keluarga kami, kami tidak makan babi, itu sudah pasti,” kata Nina Wang, 24 tahun Kaifeng asli, yang sekarang tinggal di Israel dan diakui sebagai Yahudi ortodoks, kepada Wall Street Journal. Keluarganya telah melewati proses menorah dan Kiddush, katanya, “tapi kami tidak tahu apa yang mesti dilakukan dengan hal-hal tersebut.”

Orang-orang Yahudi Kaifeng mesti melangkah dengan hati-hati kerana Cina melarang kegiatan keagamaan yang tidak sah, dan mereka jarang memiliki “minyan” (10 orang laki-laki, jumlah minimal yang diperlukan untuk melakukan ritual doa Yahudi).

Maka tidak hairan, Yahudi Cina mengenakan pakaian tradisional Cina. Mereka juga merayakan Paskah di restoran, meskipun beberapa membawa Matzah yang dikirim dari Hong Kong.

Di Cina sendiri memang ada beberapa lokasi pelancongan Yahudi, tapi sedapat mungkin tidak begitu diekspos ke hadapan umum.

“Anda boleh menginap dengan keturunan Yahudi setempat untuk melihat hidup mereka seperti,” kata Su Linzhong, seorang profesor pengurusan di Universiti Kaifeng, dan menambahkan “mereka begitu emosional tentang datuk-nenek mereka.” (sa/haaretz) sumber

No comments: