Wednesday, July 16, 2014

Abu Qatada Tolak Kekhalifahan Al-Baghdadi


Radical Muslim cleric Abu Qatada speaks with his lawyer Hussein Mubadeen after his trial at the State Security Court in AmmanUlama  Abu Qatada, yang diadili atas tuduhan terorisme di Jordan, Selasa 15/7/2014 , mengecam  deklarasi khilafah oleh jihadis Sunni di Iraq dan Syria adalah tidak sah.

“Pengumuman khilafah oleh Negara Islam (IS) adalah batal dan tidak bererti,  kerana tidak disetujui oleh para jihadis lain di bahagian lain dunia,” tulis Abu Qatada dalam dokumen 21 halaman yang diterbitkan di laman jihad.

Negara Islam Iraq dan Syria (ISIS), yang telah berperang di negara tetangga Syria dan Iraq, pada tanggal 29 Jun memproklamasikan “khalifah” lintas kedua negara dan dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi, yang kini menyebut dirinya Khalifah Ibrahim.

“Kelompok ini tidak memiliki autoriti untuk memerintah seluruh umat Islam dan deklarasi mereka tidak  berlaku untuk  seorang pun kecuali diri mereka sendiri,” kata Abu Qatada.

“Ancaman untuk membunuh lawan, meminggirkan kelompok lain dan cara kekerasan dalam pertempuran merupakan dosa besar, yang mencerminkan realitai kelompok,” tulis ulama kelahiran Palestin itu.

Abu Qatada, yang telah berulang kali mengkritik Daulah Islam, mendesak umat Islam lainnya  bergabung dengan kelompok jihad Sunni.

“Mereka berkasih sayang dengan kelompok jihad lainnya. Bagaimana mereka  berurusan dengan orang miskin, yang lemah dan orang lain.”

Gerakan jihad Jordan umumnya didominasi oleh kelompok-kelompok anti-IS, dan mendukung Al-Qaeda dan  Front Al-Nusra.

Pernyataan Abu Qatada datang setelah ideologi jihad Jordan , Issam Barqawi, atau dikenal sebagai Abu Mohammed al-Maqdessi, mengecam deklarasi kekhalifahan pada 2 Jul lalu. Maqdissi nyatakan kepada Daulah Islam  untuk  lakukan ” reformasi, bertaubat dan menghentikan pembunuhan Muslim dan jangan mendistorsi agama.”

Abu Qatada, yang dideportasi dari Britain pada Julai 2013 setelah alami hukuman penjara selama  10 tahun, dibebaskan bulan lalu dengan tuduhan merancang serangan terhadap  sekolah Amerika di Amman pada tahun 1999. Secara undang-undang  dia sepatutnya bebas , tetapi dia masih tetap di penjara, menghadapi tuduhan keganasan lain, merancang untuk menyerang pelancong di Jordan selama perayaan milenium baru baru ini. (Arby/Dz) sumber

No comments: