Wednesday, July 16, 2014

Gaza - 30 Keping Serpihan Peluru di Tubuh, Masih Hidup

Kesan kecederaan mental bagi seorang mangsa perang Gaza yang berhasil selamat, Jehad Al Salibi, masih belum sembuh, begitu juga dengan luka-luka fizikal yang dideritanya. Al Salibi, yang kehilangan tangannya akibat serangan brutal roket “Israel” pada tahun 2009, masih menanggung derita yang tak terperikan.

Ddalam tubuhnya terdapat 30 keping serpihan peluru aluminium; dan patah tulang yang dideritanya telah menyebabkan kaki kanannya lebih pendek dari kaki kirinya dan dia juga menderita gangguan pendengaran ekstrim. Menjalani kehidupan seperti ini bagi pria 25 tahun itu bukanlah pilihan.

Gulf News pertama kali melaporkan kasusnya pada awal bulan ini bersama dengan dimulainya serangan “Israel” di Gaza. Pada tahun 2009, Al Salibi dihentam roket “Israel” di Gaza ketika berbasikal ke stesen minyak untuk membeli gas memasak untuk ibunya. “Lengan kiri saya diamputasi, dan sepotong besar pecahan peluru itu dikeluarkan dari bahagian belakang otak saya. Prosedur ini membantu menyelamatkan hidup saya tapi seiring berlalunya, banyak masalah yang muncul.“

Dia mengatakan bahawa kehidupan sehari-harinya sebagai mahasiswa jurusan perniagaan di Universiti Syari’ah dipengaruhi oleh ledakan itu hingga saat ini. Al Salibi saat ini menderita gangguan pendengaran di telinga kirinya. Kaki kanannya lebih pendek dari kaki kirinya sekitar tiga sentimeter kerana patah tulang dalam ledakan tersebut. Dia juga memiliki banyak kesan bakar di kaki dan tangannya.

 “Sekarang saya berjalan di sekitar kampus dengan pincang. Memiliki satu kaki lebih pendek dari yang lain, menyebabkan saya memiliki masalah punggung. Saya memakai satu kasut dengan tumit yang lebih tinggi dari yang lain untuk membantu, tapi rasa sakit itu masih ada.” Gangguan pendengaran juga mempengaruhi kehidupan sehari-hari Al Salibi. Dia terpaksa duduk di meja barisan depan di kelas untuk mendengarkan perkuliahan dengan jelas. Orang-orang yang berbicara dengannya juga harus berdiri di sisi kanannya sehingga ia dapat mendengar dengan jelas.

Kesan bakar dan pecahan peluru di tubuhnya masih membakar setiap kali air menyentuh kulitnya. “Ketika saya pergi untuk melakukan sinar-X, semuanya menyala seperti pohon Natal kerana serpihan pecahan peluru aluminium masih berada di dalam tubuh saya. Saya telah mengeluarkan peluru-peluru yang berada di permukaan, tapi ada sekitar 30 peluru yang berada lebih dalam yang masih tersisa, kerana lebih berbahaya mengeluarkannya daripada jika tetap berada ditubuh saya“.

Al Salibi mengatakan bahawad ia sangat berharap untuk dapat melanjutkan proses rawatannya, tetapi dengan statusnya sebagai mahasiswa, dia tidak memiliki dana yang cukup untuk melakukannya. “Saya ingin menyelesaikan proses rawatan saya, tapi itu terlalu mahal dan insuran tidak meliputi biaya pembedahan besar tersebut.“

Dia bersyukur dia menerima rawatan awal, katanya, berkat usaha penguasa UAE dan Arab Saudi. Dan, insya Allah, akan ada lebih banyak bantuan untuk menyelesaikan rawatannya. “Mimpi saya adalah untuk melanjutkan rawatan saya dan menerima biasiswa master dan doktor untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang lebih tinggi sehingga saya dapat kembali ke Gaza dan bermanfaat bagi negara saya. Saya berharap  mendapatkan bantuan sehingga saya dapat memenuhi mimpi ini.“ Semoga mimpi-mimpi Al-Salibi bisa menjadi kenyataan. Aamiin. - sumber

No comments: