Sunday, August 24, 2014

AS Bukan Nak Tolong, Tapi Mahu Bikin Duit


pesawat israel
Presiden Barack Obama mengatakan ketika di wawancara baru-baru ini dia tidak mahu tentera AS untuk menjadi angkatan udara Iraq.

 Washington telah sepakat untuk memperkuat kekuatan udara Iraq dengan menjual 36  unit  F-16 jet tempur  canggih dan 24 helikopter Apache.

Tapi negosiasi kontrak cukup panjang, pembuatan manufaktur yang panjang dan birokrasi yang lambat telah menjadi gangguan . Pesawat-pesawat Iraq baru mulai  produksi  empat tahun setelah Kongres AS pertama kali diberitahu tentang rancangan penjualan pesawat tempur untuk pemerintahan Baghdad .

Pada Ogos bulan ini , hanya dua dari F-16 telah diserahkan pengeluarnya Lockheed Martin Corp kepada pemerintahan AS , yang 1 unitnya senilai US $ 65.000.000  , tetapi hingga saat ini belum ada  yang tiba di Iraq. 2 Jet yang ada sekarang masih disimpan oleh AS kerana alasan ketidakjelasan masalah pembayaran dan buruknya keamanan.

“F-16 tidak disampaikan saat ini kerana Iraq belum  membuat ansuran terbaru dan juga  keamanan instalasi landasan udara di Balad yang belum  selesai kerana situasi buruknya keamanan di Iraq,” kata seorang pegawai pertahanan AS .

Nuri al-Maliki, yang mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri minggu lalu telah mengkritik lambatnya pengiriman dari pesawat F-16. Mereka menyalahkan birokrasi AS bergerak lambat.

Pegawai Pentagon menyangkal sengaja memperlambat pengiriman pesawat. Mereka mencatat Amerika Syarikat memiliki kontrak penjualan program militer US$ 15 Milyar dengan Iraq dan telah bekerja untuk mempercepat pengiriman peralatan tersebut.

Lockheed Martin Corp mengatakan produksi pesawat Irak akan selesai pada akhir 2017 Itulah kerangka waktu yang diprojeksikan dalam kontrak awal.

Jenis pesawat yang dipilih kekuatan udara Iraq dari Amerika Serikat akan menjadi alat paling  ideal untuk menyerang militan Negara Islam , terutama pada saat mereka melakukan perjalanan  konvoi di ruang terbuka  di negara itu, kata Michael O’Hanlon, seorang analis pertahanan di Brookings Institution di Washington.

Angkatan udara Iraq di bawah diktator Saddam Hussein pernah menjadi  salah satu kuasa terkuat di wilayah ini, dengan sekitar seribu pesawat, termasuk Soviet MiG dan Mirages Perancis, menurut GlobalSecurity.org. Sebahagian besar  rosak teruk oleh Perang Teluk pertama dan kesan sejumlah sanksi PBB yang dikenakan pada Iraq pada akhir 1990-an.

Pada saat invasi AS pada tahun 2003, angkatan udara Iraq hanya memiliki antara 100 dan 300 pesawat tempur , sebahagian besar tidak berjaga dan akhirnya unit pesawat tempur tersebut dilupuskan setelah terjadinya konflik.

Hari ini, Baghdad hanya memiliki sekitar sedozen pesawat tempur Rusia SU-25  dan 6 unit  helikopter tempur buatan Rusia, ujar analis yang mempelajari estimasi pasukan militer Iraq.

Sisanya terdiri dari pesawat buatan AS berukuran kecil dan menengah dan helikopter buatan Rusia, pesawat buatan AS yang digunakan untuk pemantauan, beberapa di antaranya dapat meluncurkan Hellfire rudal udara-ke-bumi.

“Ketika AS pergi, mereka  meninggalkan Iraq dengan hampir tidak ada angkatan udara,” kata Ben Barry, seorang mantan perwira tentera Britain yang sekarang menjadi rekan senior Institut Internasional untuk Studi Strategis di London. “Itu telah menempatkan negara Iraq pada kerugian yang cukup besar.”

Kemudian Amerika Syarikat menghabiskan $ 20 billion untuk membangun sebuah kekuatan militer 800.000 askar  Iraq untuk menjaga situasi konflik  ketika militer AS menarik diri pada tahun 2011.

Kini Mujahidin  Negara Islam telah berhasil kuasai  beberapa peralatan militer  AS bernilai jutaan dolar dari militer Iraq yang porak poranda , yang mereka peroleh saat kemenangan pertempuran dalam serangan dua  bulan yang lalu.(Arby/Dz) sumber

No comments: