Friday, July 24, 2015

Habib Rizq Perincikan Proses Damai di Tolikara

578376habib rizieq baru9

PERDAMAIAN TOLIKARA
 
Bismillaah wal Hamdulillaah …
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Berbagai Media Cetak dan Elektronik dengan gegak gempita dan penuh semangat berlumba-lumba memberitakan “Perdamaian Tolikara”, seolah-olah masalah telah selesai.

Ketara sekali, semua Media Liberal ingin segera menutup berita INTOLERANSI KRISTIAN RADIKAL di Papua. Padahal, ketika awal kejadian semua bungkam seribu bahasa untuk menyembunyikan kebiadaban KRISTEN RADIKAL.

PROPOSAL PERDAMAIAN

Hingga saat ini, walau pun secara “seremonial” telah dilaksanakan “perdamaian” di Tolikara – Papua, namun isi proposal perdamaian tersebut masih TIDAK JELAS.

Perdamaian Tolikara mesti komprehensif yaitu mencakup perdamaian dalam semua aspek kehidupan beragama dan bermasyarakat di SELURUH PAPUA, antara lain:

1. Tidak boleh lagi ada Larangan Jilbab bagi Muslimah, sebagaimana umat Kristian di wilayah majoriti Islam tidak pernah dilarang memakai atribut kekristiaan seperti Salib dan sebagainya.

2. Tidak boleh lagi ada Larangan Ibadah umat Islam, sebagaimana umat Kristian di wilayah majoriti Islam tidak pernah dilarang Kebaktian dan Natalan serta aneka ritual lainnya.

3. Tidak boleh lagi ada Larangan Penggunaan Speaker di DALAM MASJID, sebagaimana Gereja di wilayah majoriti Islam tidak pernah dilarang memakai Speaker di DALAM GEREJA, sekalipun suara loceng, piano dan gitar serta koir paduan Suara Gereja sering terdengar kuat hingga keluar Gereja.

4. Tidak boleh lagi ada Larangan Pemasangan Papan Tanda Nama Masjid dan Musolla serta Madrasah, sebagaimana umat Kristian di wilayah majoriti Islam tidak pernah dilarang memasang papan tanda Nama Gereja dan Sekolah Kristian, serta Lambang Salib dan Patung Jesus mau pun Maria.

5. Tidak boleh lagi ada acara Keagamaan Kristian yang mengganggu pelaksanaan ibadah umat Islam di Masjid mau pun Musolla pada Hari Besar umat Islam, seperti saat pelaksanaan Solat Jumaat dan Solat Hari Raya, sebagaimana umat Islam di wilayahnya sendiri pun tidak pernah mengadakan perhimpunan besar-besaran atau majlis zikir di depan Gereja saat ada Kebaktian atau Natalan.

Intinya, tidak boleh lagi ada INTOLERANSI dan DISKRIMINASI serta INTIMIDASI terhadap umat Islam dalam bentuk apa pun, sebagaimana umat Kristian di wilayah majoriti Islam bisa hidup tenang TANPA PENINDASAN.

Jika kelima-lima perkara di atas tidak dituangkan dalam Proposal Perdamaian Tolikara, maka itu sama saja dengan PEMBODOHAN dan PENIPUAN serta PENGKHIANATAN terhadap umat Islam, sehingga WAJIB DITOLAK.

DAMAI BUKAN PEMUTIHAN

Proposal Perdamaian Tolikara tidak boleh menjadi PEMUTIHAN (terlepas dari undnag-undang dan hukuman) bagi Para Perusuh dari kalangan Kristian Radikal, sehingga Perdamaian tersebut tetap harus menjamin:

1. Penuntasan PROSES UNDNAG-UNDNAG terhadap SEMUA Perusuh.

2. Penangkapan Pendeta.Marthen Jingga dan PendetaNavus Wenda yang telah menanda-tangani Surat Edaran Pelarangan Jilbab dan Solat Aidl Fitri pada tanggal 11 Julai 2015.

3. Pengembalian 243 Pelarian, ke rumah mereka dengan aman dan selesa, serta mesti ada GANTI RUGI bagi semua mangsa yang terluka atau kehilangan harta benda.

4. Pembangunan kembali Masjid dan Kios serta Rumah Umat Islam yang menurut Data Terakhir ada 49 Kios dan puluhan Rumah muslim yang terbakar.

5. Keamanan penggunaan semua Masjid dan Musolla se-Papua, khususnya Penggunaan kembali Masjid Baitul Muttaqin Tolikara yang memang sudah ada sejak tahun 1945, sehingga sudah seusia dengan Kemerdekaan Indonesia dan sudah sepatutnya dijadikan sebagai MASJID RAYA TOLIKARA.

Jika tidak ada jaminan untuk kelima perkara tersebut, maka sama sekali tidak ada makna bagi Perdamaian tersebut, sehingga umat Islam TIDAK BOLEH menerimanya.

ANDAIKAN FPI … ???

Sekedar pertanyaan ingin tahu: Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah RI dan segenap Media Liberal, serta semua LSM Komprador dan Lembaga HAM dalam mau pun luar negeri, ANDAIKAN FPI menerbitkan Surat Edaran Rasmi ditanda-tangani Ketum dan Sekumnya yang berisikan “Peraturan Wilayah Mayoritas Muslim”, dengan rincian aturan sebagai berikut:

1. Tidak boleh ada umat Kristian yang memakai atribut kekristianan seperti Salib dan lainnya.

2. Tidak boleh ada Kebaktian dan Natalan serta aneka ritual Kristian lainnya.

3. Tidak boleh ada speaker, loceng, piano, gitar dan koir serta pidato di DALAM GEREJA.

4. Tidak boleh ada Pemasangan papan tanda Nama Gereja dan Nama Sekolah Kristian, serta Pemasangan Lambang Salib dan Patung Jesus mahu pun Maria.

5. Tidak boleh ada sambutan acara Keagamaan Kristen dalam bentuk apa pun, kerana umat Islam diserukan untuk menggelar perhimpunan atau Majlis Zikir di depan Gereja setiap ada Kebaktian atau Natalan.

INTINYA: Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah RI dan segenap Media Liberal, serta semua LSM Komprador dan Lembaga HAM dalam mahu pun luar negeri, ANDAIKAN FPI menyerukan umat Islam di seluruh Tanah Air agar menumbuh-suburkan sikap INTOLERANSI dan DISKRIMINASI serta INTIMIDASI terhadap umat Kristian di mana pun mereka berada … ???!!!

Muhammad Rizieq Syihab
Imam Besar FPI

sumber

No comments: