Sunday, July 12, 2015

Isu Uighur - THAILAND Tolak Desakan CHINA

Menuai protes, Thailand akhirnya menolak permintaan Cina untuk memulangkan Muslim Uighur

Berusaha untuk meredakam kecaman antarabangsa atas keputusannya yang memulangkan hampir 100 Muslim Uighur ke China, pemerintah Thailand pada Jumaat (10/7/2015) mengatakan telah menolak permintaan dari Beijing untuk mengembalikan semua migran Uighur yang saat ini sedang berada di kem-kem penahanan, sebagaimana disiarkan oleh Reuters.

Pemulangan imigran Uighur itu telah menuai kecaman internasional, dan mencetuskan protes besar-besaran di Turki, yang merupakan negara asal dari sebahagian Muslim Uigur. Beberapa warga Turki memiliki ikatan emosional yang kuat secara budaya dan agama dengan Uighur terutama Muslim, yang berbicara bahasa Turki.

Cina mendakwa “beberapa pemerintah asing dan pasukan” mencuba untuk mengeksploitasi isu Uighur untuk tujuan mereka sendiri dan mengatakan bahawa hal itu merupakan “kerja sama yang normal” dengan Thailand untuk mengekang imigrasi ilegal. Kolonel Weerachon Sukhondhapatipak, jurucakap wakil pemerintah Thailand mengatakan bahawa sejalan dengan “perjanjian internasional dan hukum internasional“, pihaknya mesti memverifikasi kewarganegaraan dari semua migran Uighur sebelum memutuskan nasib mereka.

 “Ini tidak seperti bahawa China secara tiba-tiba meminta Uighur dan kami memulangkan mereka begitu saja. China meminta semua Muslim Uighur yang ada di Thailand untuk dipulangkan tetapi kami berkata bahawa kami tidak dapat melakukan itu,” katanya kepada wartawan.

Menurut Weerachon, Thailand telah mengidentifikasi lebih dari 170 warga Uighur sebagai warga negara Turki dan mengirim mereka ke Turki sepanjang bulan lalu, sementara hampir 100 Uighur dikirim kembali ke China. Lima puluh orang lainnya masih perlu diverifikasi kewarganegaraan mereka. Komisaris Tinggi untuk Pelarian PBB (UNHCR) sangat mendesak Cina untuk memastikan warga Uighur mendapatkan perlakuan yang tepat.

Pada Jumaat (10/7) Human Rights Watch yang berpusat di New York mengatakan bahawa Uighur menghadapi penganiayaan di China. Ratusan atau kemungkinan ribuan Muslim Uighur melarikan diri dari wilayah Xinjiang di China kerana mengalami penindasan. Etnik Uighur kemudian melakukan perjalanan secara sembunyi-sembunyi melalui Asia Tenggara menuju Turki. Perlakuan Cina terhadap etnik Uighur yang memiliki hubungan darah dengan Turki menjadi isu sensitif, terutama di negara yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan. Hubungan bilateral antara Turki dan Cina menjadi memburuk, terutamanya menjelang kunjungan Erdogan ke Beijing bulan ini. Erdogan merancang membahas masalah warga Uighur ketika dia bertemu dengan pejabat China di Beijing. -sumber

No comments: